Makkah tunduk. Hari itu, hampir dua ribu orang masuk Islam. Mereka menyerah tanpa syarat. Meski pedang dan tangan mereka selama ini bergelimang darah menyerang umat Islam, tapi Nabi melupakan semua itu. Dengan enteng beliau bersabda, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian. Pergilah! Kalian adalah orang-orang bebas!”
Namun sejarah begitu kelam bagi sebagian kafir Ouraisy. Ada beberapa tokoh Ouraisy yang begitu besar dosanya kepada kaum Muslimin. Rasulullah saw tahu bagaimana mengambil sikap atas mereka. Sejarah pun mencatat sembilan tokoh kafir Quraisy divonis mati oleh Rasulullah saw. Beliau memerintahkan untuk membunuhnya sekalipun mereka ditemukan di bawah kain penutup Ka’bah," tulis Syekh Shafiyurahman al- Mubarakfuri dalam ar-Rahiq al-Makhtum.
Nama Ikrimah bin Abu Jahal tercantum pada urutan pertama di antara mereka yang harus divonis mati. Karena tak ada pilihan lain, tokoh Ouraisy yang pernah terlibat melawan kaum Muslimin dalam Perang Badar, Uhud dan Khandaq ini segera meluputkan diri, la bermaksud membawa kesombongannya ke negeri Yaman.
Sementara itu, istrinya Ummu Hakim bersama beberapa wanita lainnya, menghadap Rasulullah saw dan memohonkan ampun untuk Ikrimah. Permintaan itu pun dikabulkan. Ditemani seorang pelayannya yang berkebangsaan Romawi, Ummu Hakim pergi meninggalkan Makkah. Di tengah perjalanan ia hampir diperdaya oleh sang pelayan. Namun dengan kecerdikannya, Ummu Hakim berhasil menyelamatkan diri.
Di pantai Laut Merah, Ummu Hakim menemukan suaminya. Saat itu, Ikrimah sedang berbincang dengan seorang pelaut Muslim yang akan membawanya ke seberang.
“Kalau kamu mau masuk Islam, saya akan mengantarkan ke seberang,” ujar si pelaut.
“Bagaimana caranya?” tanya Ikrimah.
“Ucapkanlah, ‘Asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah' ” ujar si pelaut.
'Tidak mungkin! Justru karena kata-kata itu saya pergi dari Makkah!” jawab Ikrimah.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang seperti itu, Ummu Hakim datang, la pun segera membujuk sang suami agar bersedia kembali ke Makkah karena Rasulullah saw telah menjamin keamanan dirinya.
Tak mudah meluluhkan hati Ikrimah. Setelah berbincang agak lama, dibantu oleh sang pelaut, akhirnya putra Abu Jahal itu pun bersedia kembali ke Makkah. Begitu tiba di hadapan Nabi saw, beliau seakan melompat menyambut Ikrimah. Di hadapan banyak orang, beliau mengingatkan agar tidak memaki ayah Ikrimah (Abu Jahal, red). Sebab, memaki orang yang sudah meninggal hanya akan menyakiti orang yang masih hidup. Sedangkan orang yang sudah mati tidak akan mendengar apa-apa.
Ikrimah adalah sosok sahabat Rasulullah saw yang mulanya amat membenci Islam. Sebelum peristiwa Fathu Makkah, ia pernah diajak Khalid bin Walid untuk datang ke Madinah dan masuk Islam. Dengan percaya diri yang berlebihan, Ikrimah menjawab, “Andaikan tak tersisa lagi (orang yang tidak masuk Islam), aku tetap takkan mengikuti ajaran Muhammad selama-lamanya,” demikian seperti dikutip Munir Muhammad Ghadhban dalam Manhaj Harakhnya.
Sikap serupa dimiliki juga oleh Shafwan bin Umayah. Ketika mengetahui sahabat kentalnya Umair bin Wahab masuk Islam, ia begitu membencinya, la bersumpah untuk tidak berbicara lagi dengan karibnya itu. Namun tidak dengan hari itu. Umair menjemputnya di pinggir laut, mengajaknya masuk Islam dan menyerahkan diri dengan aman pada Rasulullah. Ini pilihan paling sulit bagi Shafwan. la pun terpaksa mengikuti saran karibnya itu. Tapi kesombongan masih belum hilang dari dirinya, la memang bersedia menyerah, tapi tetap tak mau masuk Islam, la minta waktu dua bulan untuk berpikir. Nabi saw bahkan memberinya peluang empat bulan hingga Shafwan ikut Perang Hunain, dalam keadaan musyrik.
Dalam kondisi demikian pun, Shafwan masih menyimpan sikap buruknya. Ketika suatu saat Rasulullah saw menyuruh seseorang untuk meminjam uang sebesar 50 ribu dirham dan beberapa baju perang, Shafwan berkata, “Apakah ini paksaan, ya Muhammad?”
“Bukan ” jawab Rasulullah saw, ini pinjaman yang akan dibayar nanti."
Rasulullah saw menepati janjinya, la mengembalikan pinjamannya yang diambil dari harta rampasan Perang Hunain. Setelah itu, Shafwan masuk Islam.
Tipe dua tokoh Quraisy itu akan selalu mewarnai sejarah. Merekalah sosok yang tak bisa ditaklukkan dengan cara biasa. Hati mereka tak bisa dilunakkan dengan dakwah seperti dilakukan kepada banyak orang. Tokoh seperti ini hanya bisa ditundukkan dengan kekuasaan.
Umumnya, para tokoh yang mempunyai karakter seperti ini adalah mereka yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat. Mereka tak hanya mempertahankan diri tapi juga status sosial, keturunan dan jabatan dalam masyakarat.
Menghadapi masalah seperti ini, para dai tak bisa menggunakan kaidah dakwah yang berlaku umum. Harus ada pengecualian. Ini yang dilakukan Rasulullah saw kepada Ikrimah dan Shafwan. Menjelang Ikrimah menyatakan diri masuk Islam, di hadapan para sahabatnya, Rasulullah bersabda, sebagaimana dikutip al- Maqrizi dalam Imta’ul Asma-nya, “Kalian akan kedatangan Ikrimah bin Abu Jahal sebagai seorang Mukmin yang muhajir (berhijrah, red). Karena itu janganlah kalian mencela ayahnya karena mencela orang yang sudah meninggal hanya akan menyakiti orang yang masih hidup. Sedangkan orang yang sudah meninggal takkan mendengar apa-apa."
Padahal, sebelumnya nama Abu Jahal adalah ikon permusuhan bagi umat Islam. Nama Abu Jahal sering digunakan untuk membangkitkan semangat perlawanan kepada kafir Quraisy. Adapun Rasululullah, dendam beliau begitu besar. Terlalu besar kesalahan Abu Jahal kepada Rasulullah saw dan kaum Muslimin. Namun sikap pemaaf Rasulullah saw, melampau dendamnya. Itu yang membuat Rasulullah saw menutup celah permusuhan kepada Ikrimah, putra Abu Jahal.
Hal yang sama juga terjadi pada Shafwan. Untuk menaklukkan hati tokoh ini, Rasulullah saw sampai membiarkannya ikut bergabung dalam Perang Hunain. la dipersilakan melihat sikap hidup, cara beribadah dan bahkan cara berperang. Hal itu tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, tapi hingga berlangsung empat bulan. Tentu kaidah dakwah ini dikecualikan atas diri Shafwan yang tidak bisa diterapkan pada kondisi normal. (HepiAndiBastomi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar