Berpegang Teguh Pada Tali Allah

Berpegang Teguh Pada Tali Allah

Pemandangan indah nan cerah yang dirajut kaum Muslimin di Madinah kala itu menerbitkan iri hati seorang Yahudi. Terbetiklah niat jahatnya untuk memecah belah kaum Muslimin. Dengan segala tipu daya licik, Yahudi itu mengadu domba dengan mengisahkan kembali peperangan-pepe- rangan yang sering terjadi antara dua kelompok kaum Muslimin: Aus dan Khazraj. ia menyebut- nyebut kejantanan, keperwiraan dan kemuliaan masing-masing suku agar hati kedua belah pihak panas. Tak ayal, mereka mulai mengambil senjata dan siap berperang.

Berita tentang ancaman konflik itu sampai ke telinga Rasulullah saw. Beliau segera datang melerai. Tegas beliau bersabda, “Apakah kalian hendak saling membaga-banggakan dan menonjolkan semangat Jahiliyah padahal aku ada di antara kalian?’ Para sahabat yang terdiri dari kaum Anshar itu pun menyesal lalu meletakkan senjata masing-masing.

Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah menurunkan firman-Nya, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang- orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Aliah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS Ali Imran: 103).

imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, yang dimaksud dengan tali Allah adalah “perjanjian dan perlindungan untuk orang kafir dzimmi sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya, Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas” (QS Ali Imran: 112).

Namun, hablullah dalam ayat ini bisa juga berarti al-Qur’an. Sebagaimana disebutkan
dalam hadits marfu’ (dihubungkan kepada Rasulullah saw) dari Ali tentang sifat al-Our’an, “Dia (al-Qur’an) adalah sifat Aliah yang teguh dan jalan-Nya yang lurus ”
Dua penafsiran itu bisa saja benar semua. Tapi menurut banyak ulama yang paling tepat adalah yang kedua. Sebab, bila dikaitkan dengan ayat sebelumnya (ayat: 102), seruan ayat ini ditujukan kepada orang-orang Islam yang Mukmin, bukan orang-orang kafir dzimmi.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya...”(Ali Imran: 102).

Al-Quran yang merupakan petunjuk bagi orang-orang bertakwa adalah kitab pedoman kaum Muslimin. Dengan berpegang teguh kepadanya, kaum Muslimin di mana pun berada akan dapat bersatu padu dan berjuang bersama menegakkan agama Allah. Dengan pegangan yang sama, mereka akan menjadi umat yang sukses di dunia dan akhirat.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah hablullah yang teguh. Dia adalah cahaya yang terang. Dan dia adalah obat penyembuh yang bermanfaat. Dia menjadi pelindung bagi orang yang berpegang teguh kepadanya. Dan dia menjadi penyelamat orang yang mengikutinya," (HR Ibnu Mardawaih).
Imam az-Zamakhsyari dalam tafsir al-Kasysyaf-nya mengatakan, makna firman Allah tersebut adalah; “Bersatulah atas permohonan kalian kepada Allah, dan kepercayaan kalian kepada- Nya, dan janganlah kalian berpecah belah. Atau bersatulah kalian dengan berpegang teguh kepada janji-Nya terhadap para hamba- Nya, yaitu iman dan taat. Atau bersatulah kalian dengan kitab-Nya lantaran Rasulullah saw bersabda, UAI-Qur'an adalah hablullah yang teguh yang keajaibannya tak putus-putus..." (HR Tirmidzi).

Adapun kalimat ‘Wala tafarraquu* (Dan janganlah kalian bercerai berai) menurut Ibnu Katsir, dalam ayat ini Allah menyuruh kaum Muslimin untuk berjamaah dan melarang mereka bercerai-berai. Sedangkan az-Zamakhsyari menafsirkannya dengan: “Janganlah kalian bercerai berai dari kebenaran lantaran jatuh dalam perbedaan yang luar biasa sebagaimana perbedaan pada bangsa Yahudi dan Nasrani. Atau perpecahan dan permusuhan yang kalian alami dulu di masa Jahiliyah. Janganlah itu terjadi. Kembalilah kepada yang mempersatukan kalian, yaitu mengikuti kebenaran dan berpegang teguh kepada Islam."

Langkah pertama menuju persatuan itu adalah meluruskan niat. Niat adalah kunci ibadah, la menjadi salah satu penentu berpahala atau tidaknya sebuah amal. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” (HR Bukhari Muslim). Bagi kaum Muslimin, niat tak hanya berfungsi sebagai penilai sebuah amal. Niat bisa menjadi motor penggerak paling efektif bagi sebuah tindakan. Niatlah yang bisa menggelorakan semangat para pejuang melawan beragam kezaliman. Sebaliknya, niat rapuh dan setengah-setengah bisa membuat rencana besar gagal.
Bagi terbentuknya sebuah kesatuan umat, niat menjadi penting, la bisa menjadi titik temu bersatunya beragam jamaah dalam satu ikatan. Bendera, partai dan kelompok bisa jadi berbeda. Tapi niat yang lurus dan tuluslah yang akan menyatukan ragam berbedaan itu.

Lahirnya bermacam kelompok, di satu sisi tak terlalu mengakhawatirkan jika masing- masing tetap berlandaskan pada satu niat. Keberadaan partai dan organisasi masyarakat di segenap tingkatan sosial bisa jadi positif jika niat mereka tetap satu. Umat Islam dipersi- lahkan berada di beragam strata sosial, tapi harus tetap menjaga niatnya. Apa pun kedudukannya, seorang Muslim harus memurnikan niatnya. Allah berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shaiat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lums,” (QS 98; 5). Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari penyimpangan dari manhaj Allah dan Rasul- Nya.

Begitu pentingnya kita menjaga niat semata untuk beribadah kepada Allah, sehingga perintah untuk melakukannya ditemukan dalam banyak ayat. Dalam surah az-Zumar misalnya, Allah mengulangnya hingga dua kali. Allah berfirman, uKatakanlah: "Sesungguhnya Aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya 'dalam (menjalankan) agama” (QS az-Zumar; 11). Pada ayat 14, Allah kembali berfirman dengan kalimat yang nyaris sama, “Katakanlah: uHanya Allah saja yang Aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku"
Akhirnya, kita harus bisa memantapkan keikhlasan niat. Di mana pun berkiprah, kita harus tetap satu hati, satu tujuan dan satu cita- cita. Ini modal besar kita untuk bersatu. (HepiAndiBastoni)

Berpegang Teguh Pada Tali Allah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar