Libur Idul Fitri sudah puput. Saatnya si kecil yang masih duduk di TK atau SD awal memulai lagi aktivitas rutinnya di sekolah atau di rumah. Memulai lagi aktivitas rutin yang sempat “terbengkalai” saat libur panjang, memang cukup menyita perhatian. Apalagi, bagi si kecil yang masih labil dan memerlukan bimbingan orang tua.
Tapi,
faktanya banyak orang tua yang mengeluh, jika anaknya kembali berperilaku
seperti saat awal masuk sekolah. Ada yang “ogah** bangun pagi, tak mau sekolah,
ketika tiba di sekolah malah merengek minta pulang atau minta ibunya menunggui,
atau perilaku lain yang membuat orang tua bingung.
karena dapat
berdampak buruk pada sang anak. Akibatnya,
orang tua sering menempuh jalan paksa agar anak disiplin dalam mengawali
aktivitas rutinnya ini. Jika anak tetap "bandel,” orang tua malah
membentak, memaksa dengan kekerasan, atau menghukum si kecil. Tentu saja, cara
ini sebaiknya dihindari
Yang harus
diingat, disiplin tak hanya melakukan koreksi pada tingkah laku anak-anak
semata, tapi juga mengajarkan mereka agar bisa mengontrol diri dan peduli pada
lingkungan. Jika hal ini bisa diterapkan, anak- anak akan tumbuh menjadi orang
yang berhasil di kemudian hari.
Dalam penelitiannya,
Dr Paul D Hastings dari
National Institue of Mental
Health menyimpulkan, orang tua
yang menerapkan disiplin dan hukuman berlebihan, tak berusaha berkomunikasi,
tak memberikan penjelasan, pengertian dan menerapkan peraturan secara tak
konsisten, keterlaluan dalam memarahi anak atau menunjukkan kekecewaan terhadap
anak, akan menghalangi perkembangan pra sosial si kecil.
Hasil
penelitian yang diterbitkan Jurnal Developmental
Psychology, September lalu, memfokuskan pada gaya orang tua (khususnya
ibu) dalam mengasuh anak. Penelitian ini juga menyimpulkan, anak-anak
mengartikan perilaku keras orang tua sebagai bentuk tidak adanya kasih sayang
orang tua terhadap mereka. Jika perilaku ini terus berlanjut, akan memperlemah
kemampuan anak dalam menunjukan empatinya terhadap orang lain.
Sementara itu, orang tua yang bersikap hangat, menggunakan penjelasan dan
tidak mengandalkan hukuman keras dalam mendisiplinkan anak-anak, cenderung
menumbuhkan rasa empati mereka terhadap orang lain. Karena itu, jadilah orang tua yang hangat, suka berkomunikasi dengan anak dan menerapkan disiplin secara efektif.
Rasulullah saw pun selalu menghindari perkataan kasar apalagi membentak, menghukum atau memaksa anak-anak agar berperilaku sesuai tuntunannya. Bahkan, Rasul juga tak mencela sikap apa pun yang dilakukan anak seusia TK atau SD awal. Seandainya, Nabi saw mengambil sikap tegas, itu pun semata-mata untuk menanamkan dalam jiwa anak perasaan malu, menumbuhkan sikap mawas diri dan ketelitian yang terkait dengan akhlak mulia.
Anas ra mengungkapkannya dalam sebuah hadits, “Aku telah melayani Rasulullah saw selama 10 tahun. Demi Allah, Rasul tak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tak pernah menanyakan, “Mengapa engkau lakukan?” Beliau juga tak pernah mengatakan, “Mengapa tidak engkau lakukan?” (HR Bukhari dan Muslim dalam kitab Adab, no. 5578 dan kitab al-Fadhail, no. 4269)
(DwiHardianto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar