Jika Badai Cerai melanda

Jika Badai Cerai melanda

Perilaku Wulan (4,5 ih) belakangan sering memancing emosi orang tua dan gurunya. Perilakunya tak bisa diduga, beberapa menit sebelumya tampak a$yik bermain bersama teman-temannya. Tak lama kemudian, ada saja temannya yang menangis karena didorong, dipukul atau ditakut-takuti.
Di sekolah, gurunya memergoki Wulan sedang membanting mainan, melemparnya ke teman-teman dan menginjak mainan itu satu per satu. Gurunya sudah mencoba untuk mencari penyebabnya di sekolah. Tapi, tidak ada alasan kuat bahwa sekolah menjadi faktor penyebab utamanya.
Akhirnya, pada suatu kesempatan, ibunya Wulan mengunjungi sekolah untuk memenuhi undangan guru. Ibu Wulan mengaku, keluarganya sedang menghadapi badai besar yang sewaktu-waktu bisa berujung pada perceraian, la menduga, persoalan inilah yang menyebabkan emosi putrinya menjadi labil. Apalagi, si kecil sering melihat pertengkaran dirinya dengan suami, yang berakhir dengan tangisan dirinya di hadapan Wulan.
Ibu Wulan juga menjelaskan, masalah yang terjadi pada keluarganya sangat menguras energi. Akibatnya, perhatian pada putri satu-satunya ini sangat berkurang, la mengaku jarang menyempatkan waktu bersama Wulan untuk sekadar bercerita, menanyakan kabar tentang sekolahnya, teman-temannya dan sebagainya.
Memang, dalam situasi tertentu, misalnya suami atau istri melakukan kekerasan rumah tangga, perceraian bisa jadi merupakan jalan keluar terbaik. Tapi tetap saja ada akibat atau konsekuensi negatifnya, terutama pada anak.
Efek negatif perceraian pada anak-anak, khususnya usia pra sekolah hingga SD, bisa berbeda-beda dan tergantung banyak faktor. Mulai dari usia anak, jenis kelamin, kematangan kepribadian, kesehatan psikologis dan tingkat dukungan pada anak dari orang dewasa lain.
Secara umum, anak perempuan lebih bisa mengatasi hal negatif yang berkaitan dengan perceraian orang tuanya ketimbang anak laki- laki. Problem anak laki-laki dari orang tua yang bercerai, biasanya lebih serius. Mereka lebih mudah terganggu. Ini karena anak laki-laki lebih rasional, sedang perempuan lebih mampu memendam perasaan.
Keputusan bercerai biasanya sudah melalui proses panjang. Karenanya, orang tua sebaiknya tetap melibatkan anak dalam proses ini. Jangan sampai anak baru diberitahu setelah keputusan diambil, lalu ia ‘dipaksa' untuk mengerti. Padahal, proses perceraian merupakan aspek penting yang ingin diketahui anak. Persoalannya, anak belum bisa mengungkapkan pendapatnya.
Akibatnya, setelah anak lebih dewasa, ia akan mengatakan bahwa ia diabaikan. Anak merasa tak pernah dilibatkan, tidak ditanya pendapat dan perasaannya. Padahal, anak juga sangat mengharapkan pendapatnya didengar dan punya kesempatan untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan. (Dwi H )
Jika Badai Cerai melanda Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar