Akidah, Fikrah dan Gerak

Akidah, Fikrah dan Gerak

Poin yang tak kalah pentingnya dibanding niat adalah masalah akidah. Seperti masalah niat, akidah juga menjadi penentu diterima dan tidaknya sebuah amal. Betapa banyak amal yang dilakukan seorang hamba, jika akidahnya bermasalah, maka rangkaian perbuatannya tak bernilai di sisi Allah. Inilah yang menjelaskan, mengapa orang-orang kafir, meski melakukan banyak kebaikan, tapi di hadapan Aliah, amalan mereka bagai debu yang berterbangan.
Bagi terbentuknya kesatuan jamaah, akidah menjadi hal sangat penting. Ragam kelompok masyarakat yang bermunculan, tetap bisa menyatu dalam satu simpul jamaatui Muslimin kalau akidah mereka murni. Karenanya, Islam mentolerlr perbedaan dalam hal furu’ (cabang ibadah) tapi tidak dalam hal akidah. Oi sinilah paham sesat tak mungkin mendapatkan tempat dalam barisan kaum Muslimin.
Di sini juga kalangan Syiah, Ahmadiyah dan beragam sekte lain menemukan masalahnya. Mereka bisa jadi berpotensi melakukan ibadah lebih banyak, tapi sisi akidah mereka bermasalah. Islam tak mungkin menutup mata terhadap mereka yang menyebut Malaikat Jibril salah menurunkan wahyu. Islam juga tak mungkin menerima paham yang menyebutkan ada Nabi setelah Muhammad saw.
Kalau terhadap mereka yang menodai keabsahan Nabi Muhammad saja, tak bisa ditolerir, apalagi orang-orang yang menyekutukan Allah semisal Nasrani dan Yahudi. Aliah berfirman, "Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang * (QS aI-Baqarah: 163).
Selanjutnya adalah masalah kesatuan pemikiran. Pemikiran ibarat pemandu yang akan menuntun kita menuju satu jamaah. Ini penting agar kaum Muslimin tak terombang-ambing dalam arus pemikiran sesat. Untuk itu pemahaman umat Islam terhadap hai-hai yang bersifat prinsip perlu disatukan. Misalnya, meski berada dalam beragam partai atau organisasi masyarakat, tapi umat Islam harus sepakat tentang konsep Khilafah, Daulah dan Syariat Islam. Jangan sampai masing-masing kelompok mempunyai pemahaman sendiri tentang ketiga hal itu.
Sebaliknya, jika masing-masing kelompok mempunyai pemikiran dan konsep yang sama, ke mana pun mereka berjalan, tujuannya tetap sama. Dalam membawa gerbong jamaahnya, mungkin tak semua harus memasang label dan menyerukan Khilafah. Daulah dan Syariat Islam. Namun, tujuannya tetap sama: tegaknya Khilafah, berdirinya Daulah dan diterapkannya Syariat Islam secara kaaffah.
Karena itu. ketika memerintahkan umat Islam untuk mengalihkan kiblatnya dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, Allah berfirman, "Orang- orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, “Apakah yang mematingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah, “Kepunyaan Aliahlah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus ” (QS al-Baqarah: 142).
Allah menginginkan agar kaum Muslimin mempunyai pemikiran sama bahwa pemindahan kiblat dalam ibadat shaiat bukanlah arah Baitul Maqdis dan Kabah yang menjadi tujuan, tapi menghadapkan diri kepada Allah. Untuk persatuan umat Islam, Allah menjadikan Kabah sebagai kiblat
Setelah beberapa poin tersebut terpenuhi, maka tahapan berikutnya adalah kesatuan gerak. Yang dimaksud dengan kesatuan gerak bukan melakukan satu jenis gerakan. Namun bergerak dengan satu irama, tidak saling berbenturan antara gerakan satu dengan yang lain. Di antara kaum Muslimin harus ada yang berkecimpung di dunia politik, ekonomi dan bidang lainnya. Namun, semua gerakan itu tetap satu irama dan satu komando. Semuanya menuju pada satu visi: menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman, ‘Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh Aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan? Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. uJika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang- orang yang merugi,” (QS az-Zumar: 64-65).
Kesatuan risalah Muhammad saw. Allah berfirman, "Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui,” (QS Saba’: 28). Dengan menjadikan dakwah Muhammad saw sebagai risalah satu-satunya yang benar, maka simpul persatuan umat akan dengan mudah diikatkan. Sebaliknya, menganggap benar risalah selain Muhammad bisa membuat umat berpecah belah.
Selanjutnya adalah menjadikan pribadi Muhammad saw sebagai teladan ideal paling utama. Sosok Rasulullah saw harus ditempatkan pada puncak tertinggi di kalangan manusia utama. Teladan ini tak hanya dalam hal ibadah tapi juga gaya hidup dan cara berpikir. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah,” (QS ai-Ahzab: 21).
Dengan menjadikan pribadi Nabi saw sebagai teladan, maka apa pun gerakan yang kita lakukan tetap bermuara pada satu tujuan: tegaknya Kalimat Allah di muka bumi ini. (Hepi Andi Bastomi)

Akidah, Fikrah dan Gerak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar