Hari itu Jumat. Cerah. Secerah hati
Khalifah Umar bin Abdul Aziz hari itu.
Bersama beberapa orang, ia melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan
shalat Jum’at. Namun, ketika berada di masjid, ada yang aneh dari penampilan
Khalifah Bani Umayyah ini. Dibanding para jamaah lain, pakaiannya bisa disebut
paling sederhana. Bahkan, jauh lebih sederhana dan rakyat biasa. Beberapa
bagian pakaiannya, tampak ada tambalan.
Salah seorang jamaah yang duduk
tak jauh darinya, segera berbisik, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah
telah mengaruniakan kepadamu kenikmatan. Mengapa tak mau kau pergunakan walau
sekadar berpakaian bagus?”
Umar bin
Abdul Aziz tertunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan berkata,
"Sesungguhnya berlaku sederhana yang paling baik adalah saat kita kaya.
Sebaik-baik pengam punan saat kita berada pada posisi kuat.” Ucapan Umar bin Abdul Aziz ini bukan sekadar sedang
berslogan, la benar-benar mempraktikkannya. la berusaha sederhana justru ketika
dirinya sangat mampu untuk menjadi kaya. Penampilan Umar bin Abdul Aziz setelah menjadi khalifah,
sungguh berbeda dengan kondisi sebelumnya. Yunus bin Abi Syaib, salah seorang
yang mengetahui kehidupan Umar pemah berkata, “Sebelum menjadi Khalifah, tali
celananya masuk ke dalam perutnya yang besar. Namun, ketika menjadi Khalifah,
dia sangat kurus. Bahkan saya bisa menghitung jumlah tulang rusuknya tanpa
menyentuhnya.”
Hal senada diungkapkan putranya,
Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz ketika
ditanya oleh Abu Ja'far al-Manshur perihal jumlah kekayaan ayahnya. Ja'far
bertanya, "Berapa kekayaan ayahmu saat mulai menjabat sebagai Khalifah?”
"Empat puluh ribu
dinar."
Ja'far bertanya lagi. "Lalu
berapa kekayaan ayahmu saat meninggal dunia?"
“Empat ratus dinar. Itu pun kalau belum berkurang” jawab Abdul Aziz Kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz dalam kehidupan benar-benar diilhami oleh perilaku hidup sederhana Rasulullah saw dan para sahabatnya. Beliau sangat sederhana dalam berpakaian. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik menjenguk Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit. Maslamah melihat pakaian Umar sangat kotor. Maslamah berkata kepada istri umar, Fathimah binti Abdul Malik, Tidakkah engkau cud bajunya?”Fathimah menjawab. "Demi Allah, dia tidak memiliki pakaian lain selain yang ia pakai."
Umar bin Abdul Aziz juga sangat sederhana dalam makanan. Seorang pelayan Umar, Abu Umayyah af-Khashy berkata, "Saya datang menemui istri Umar dan dia memberiku makan siang dengan kacang adas. Saya katakan kepadanya, 'Apakah setiap hari tuan makan dengan kacang adas?"
Fathimah menjawab, "Wahai anakku, inilah makanan tuanmu, Amirul Mukminin."
Amr bin Muhajir berkata, "Uang belanja Umar bin Abdul Aziz setiap hari hanya dua dirham." Sedangkan Yusuf bin Ya’qub al-Khalil berkata, "Umar bin Abdul Aziz memakai pakaian dari bulu unta yang pendek. Sedangkan penerangan rumahnya terdiri dari tiga bambu yang di atasnya ada tanah."
Ketika mendengar kabar Umar bin Abdul Aziz wafat, Kaisar Romawi yang paling sengit memusuhi Islam pada waktu itu berkata, "Aku tidak heran bila melihat seorang rahib yang menjauhi dunia dan melulu beribadah. Tapi, aku betul-betul heran ketika melihat seorang
raja yang memiliki kekayaan begitu besar, lalu dibuangnya jauh-jauh, sehingga ia hanya berjalan kaki dan lebih memilih kehidupan seperti layaknya fakir miskin." Kesederhanaan ini bukan semata ia praktikkan sendiri. Keluarga dan orang-orang terdekatnya juga diminta melakukan hal serupa. Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz memanggil istrinya, Fathimah binti Abdul Malik yang memiliki banyak perhiasan berupa intan dan mutiara, "Wahai istriku, pilihlah olehmu, kamu kembalikan perhiasan-perhiasan ini ke Baitul Maal atau kamu izinkan saya meninggalkanmu selamanya. Aku tidak suka bila aku, kamu, dan perhiasan ini berada dalam satu rumah."
Fathimah menjawab,
"Saya memilih kamu daripada
perhiasan-perhiasan ini. Bahkan bila lebih dari itu pun aku tetap memilih
kamu."
Umar bin Abdul Aziz memberikan
pelajaran begitu berharga bagi para pemimpin dan pejabat kini. Betapa banyak
kehidupan para pejabat yang justru amat bertolak belakang dengan Umar bin Abdul
Aziz. Jauh sebelum menjadi pemimpin atau pejabat, kehidupan mereka begitu
sederhana. Namun begitu jabatan berada di tangan, kehidupannya berubah.
Jabatan seolah menjadi sarana
yang amat dinanti untuk memperkaya diri. Para bawahan dijadikan kaki tangan
untuk mengeruk harta sebanyak mungkin. Keringat karyawan diperas untuk menumpuk
kekayaan pribadi. Padahal, jauh sebelum dirinya memegang jabatan, kondisinya
tidak berbeda dengan rakyat biasa. Sungguh amat berbeda dengan kehidupan
Umar bin Abdul Aziz.
Karenanya, sebaiknya mereka yang
akan duduk di kursi kepemimpinan seharusnya mampu melepaskan diri dari jajahan
finansial, la harus merdeka dari sisi kebutuhan finansial. Dengan demikian,
ketika menjabat ia tak menggunakan wewenangnya untuk memerdekakan diri dari
jeratan kebutuhan ekonomi. Bebas, baik secara finansial maupun spiritual.
Umar bin Abdul Aziz adalah cermin
yang tak pernah pudar. Sejarah hidupnya abadi, dan menjadi inspirasi bagi
orang-orang yang senantiasa mendambakan kemudahan saat dihisab di hari Akhir
kelak. Kedudukan, kekuasaan, dan kekayaan yang ada di tangannya tidak membuat
dirinya berpenampilan perlente, meskipun
pejabat-pejabat lain yang merupakan bawahannya banyak yang berpenampilan mewah.
Tak sedikit pun ada di benak Khalifah Umar bin Abdul Aziz kekhawatiran kalau-
kalau rakyat, para pejabat, atau kepala negara lain meremehkannya atau
menganggapnya kere lantaran berpenampilan
sederhana.
Kedudukan dan kekayaan pasti akan
menjadi ganjalan dan memperlambat hisab pada hari dimana semua manusia harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan Allah. Pengadilan Allah, sangat
berbeda dengan pengadilan manusia di dunia. Di pengadilan dunia masih sering terjadi
bias dan kekeliruan, sehingga seseorang dapat lepas dari jerat hukum. Sementara
di pengadilan akhirat, tak seorang pun yang bisa lolos dari Mahkamah Ilahi. (Hepi Andi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar