Jangan Tanggalkan Iman Kita


Ada sebuah hakikat hidup yang sering terlupakan dari kesadaran kita. Boleh jadi dinamika hidup yang kita lalui, telah mengalihkan kesadaran itu. Padahal, apapun kondisinya, sebagai Muslim hakikat itu tak boleh dilupakan. Hidup sebagai medan pertarungan antara kebenaran dan kebatilan (shira’un bainal haqqi wal bathil). Itulah hakikat hidup kita.
Bagi kita, pertarungan itu adalah kenyataan, suka atau tidak. Karena hal ini menyangkut keimanan kita. Jika sebagai mukmin, kita tak mau berpihak pada kebenaran dan pendukungnya, itu berarti kita mendukung kebatilan dan pengikutnya. Lebih jauh bisa bermakna kita rela menanggalkan keimanan kita.
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran. hendaklah ia mengubah dengan tangannya, bila tak mampu maka dengan lisannya dan jika masih tak mampu maka dengan hatinya. Namun yang demikian itu adalah sele- mah-lemah iman ” (HR Muslim).
Dari sini, mestinya lahir kesadaran bahwa masalah utama kita adalah bagaimana mempertahankan keimanan. Baik menumbuhkannya dengan memperbanyak amal shalih maupun menghindari dan mencegah kemaksiatan. Inilah sesungguhnya pertarungan terbesar umat Islam. Firman Allah: Katakanlah: \'Jika bapak-bapak. anak-anak, saudara-saudara, istri- istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kha- watiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik,” (QS at-Taubah: 24).
Allah telah membimbing kita agar kecintaan yang tumbuh dalam hati ditujukan dalam rangka kecintaan pada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya. Allah pantas diutamakan karena Dialah sumber segala sumber kehidupan. Dialah yang mengatur dan menguasai alam semesta.
Kenyataan ini tak bisa ditawar-tawar. Tumbuhnya keimanan sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya. akan menghasilkan hidup dalam suasana cinta karena Allah (mahabbah tillah). Sebaliknya ketika terjadi kelemahan iman, maka suasana mahabbah tillah dalam hidup kita akan terancam dan memudar. Jika ini terjadi, kekacauan hanya soal waktu, karena setiap o- rang merasa berhak mendahulukan kepentingannya sendiri tanpa peduli hak orang lain.
Dalam ilmu akidah dikatakan: uAI-hubbu wal bughdu min samimil *aqidah” (cinta dan benci merupakan eksistensi akidah Islamiyah). Ketika hidup kita di dunia senantiasa dalam suasana mahabbah, maka energi yang luar biasa akan kita nikmati. Sebagian hukama (ulama ahli hukum) mengatakan, “Seandainya setiap manusia di dunia ini memiliki mahabbah tillah, maka tak ada satu pun orang yang akan menuntut keadilan atau merasa terzalimi.'1 Sebab semua orang merasa ridha terhadap orang lain dan lebih mementingkan cinta Allah dibanding yang lainnya. Cinta inilah yang akan mengantarkan seorang Muslim untuk hidup sesuai bimbingan Allah dan Rasul-nya.
Jelas, keimanan adalah satu hal yang mendasar. Karenanya wajib dijaga dan diperbarui. Dalam surah ai-Hujurat 10 Allah berfirman, ln- namal mu’minuuna ikhwatun.” Allah tak berfirman, “al-mu'minuuna ikhwahKarena kalau al-mu'minuuna ikhwah, itu bisa berarti kemungkinan selain berukhuwah ada sifat lain. Tetapi ketika didahulukan innama, maka itu seolah- olah, yang namanya orang beriman itu berukhuwah, tak ada yang lain. Atau dalam hadrts: la
tadkhuluunal jannata hatta tu'minuna, wa la tu’minuna hatta tahaabbu” (tidak akan masuk surga seorang di antara kamu sampai ia beriman, dan tak beriman seseorang hingga saling mencintai).
Saat ini kaum Muslimin dihadapkan pada persoalan besar, di antaranya syubhat, syahwat, penyimpangan paham keagamaan, perpecahan dan lain-lain. Cobaan tersebut silih berganti menghempas, menggoyahkan dan menggerogoti iman. Tidak mustahil seorang Muslim selanjutnya membelot bahkan murtad dari keislamannya. Maka perlu benteng yang kokoh agar semua cobaan itu bisa diredam. Salah satu caranya adalah memahami dengan benar makna keimanan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.
Dalam al-Qui^an banyak disebutkan tentang ciri keimanan, di antaranya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayaf-ayaf-A/ya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Rabbnyalah mereka bertawakkal” (QS ai-Anfal: 2).
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Aliah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Aliahlah hati menjadi tentram,1* (QS ar-Ra’d: 28).
Dalam ayat di atas Allah menjelaskan, bahwa orang beriman adalah orang yang hatinya mudah digetarkan oleh asma Allah. Untuk itu, kumandang adzan, dzikir, doa, selayaknya jadi wirid harian seorang Mukmin. Hubungan istimewa akan tercipta manakala seorang hamba sering membasahi bibirnya dengan dziknjllah. Asma Allah pun senantiasa membuat hati Mukminin bergetar tanda cintanya pada Allah. Cinta ini akan melahirkan sikap khauf (takut) akan murka-Nya dan rcya'(penuh harap) akan rahmat serta pertoiongan-Nya. Getaran yang tercipta dari kumandang ayat dan dzikir ini melahirkan ketentraman dalam hati mukminin.
Dalam haditsnya, Rasul saw menyebutkan ciri keimanan, antara lain:
“Iman itu memiliki lebih dari 70 cabang, yang paling tinggi adalah perkataan laa ilaaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan rasa malu termasuk cabang dari keimanan ” (HR Bukhari dan Muslim).
Cabang keimanan itu, menurut Rasulullah sangat banyak. Yang tertinggi adalah kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah. Kalimat inilah yang melahirkan manusia-manusia merdeka di muka bumi. Mereka sanggup lepas dari perbudakan sesama hamba menuju penghambaan total kepada Allah. Tak ada lagi rasa takut akan soal rezeki. Juga tak khawatir akan kemudha- ratan yang bakal menimpa dirinya. Semua berjalan dengan ketentraman selagi ia menjalani hidup sesuai ketentuan Allah.
Selain itu, Rasulullah juga memberikan penghamaan yang tinggi atas amal yang bagi sebagian manusia dianggap remeh. Misalnya, ketika amal itu dilakukan dengan keikhlasan karena Allah dan memberikan manfaat pada orang lain walau seringan menyingkirkan duri atau penghalang dari jalan. Juga rasa malu yang bisa mencegah orang berbuat semau dan seenaknya sendiri.
“Ya muqailibal qutub tsabbit qulubana ala d/iniq. Ya Allah pembolak-balik hati, tetapkanlah hati kami dalam din Islam (iman)” Amin.
Wallahu alam bishshawab. (Edi Junaedi)
Jangan Tanggalkan Iman Kita Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar