Totalitas

Totalitas

“TOTALITAS itu bagaimana. Mbak?"
Saya termenung sebelum menjawab. “Kamu pernah lihat konser Krisdayanti? Atau mungkin menyaksikan perjuangan para olahragawan di partai final? Itulah totalitas!”
Totalitas! Begitu sering saya mengulang-ulangnya. Kepada diri sendiri, juga kepada orang lain. Karena hal itulah yang sangat penting harus dilakukan oleh setiap penulis-baik fiksi maupun non fiksi.
Novel yang ditulis dengan totalitas luar biasa—menurut saya—salah satunya adalah ‘Ayat-ayat Cinta'. Ada getaran yang luar biasa, pada halaman berapa pun saya membacanya. Kalau dalam bahasa iklan mungkin akan berbunyi, "Ada cinta pada setiap kata." Tak heran, begitu banyak orang menyatakan tak sanggup berhenti membaca sebelum selesai. Ada yang nekad membaca dengan "sekali duduk” meski harus menelan waktu empat sampai enam jam.
Meski demikian, tak dapat dipungkiri juga adanya lontaran kritik terhadap novel tersebut. Salah satunya adalah tulisan yang pernah hadir di rubrik ini, yang secara garis besar mengatakan bahwa novel tersebut picisan. Karena bertema cinta, tokohnya terlalu sempurna, dan sebagainya.
Serta-merta saya teringat perkataan Jakob Sumardja bahwa sastra itu bukan soal apa yang kau katakan tetapi bagaimana kau mengatakannya.
Novel yang bertutur tentang cinta sangat melimpah jumlahnya di pasaran. Tentu tidak semua picisan. Setahu saya, ada banyak novel yang bertutur tentang cinta tetapi toh tetap saja diapresiasi dengan sangat baik oleh para pengamat sastra. Sekali lagi, itu adalah soal 'bagaimana mengatakannya’.
Saya akan mengambil contoh lagi dan lagi dari dunia tarik suara. Iwan Fals, orang mengenalnya sebagai penyanyi legendaris. Padahal, apakah suaranya bagus? Tidak!
Saya bahkan sanksi apakah dia bisa menang kalau mengikuti kontes tarik suara. Cara bernyanyinya biasa saja. Totalitas jiwa, totalitas pikiran saat bernyanyi, termasuk saat menciptakan lagu, itulah yang menjadikan apa yang dia bawakan menjadi istimewa. Bandingkan jika lagu-lagu Iwan dibawakan orang lain. Bukankah ada perbedaan ‘rasa’? Begitu pula ketika lagu ‘Bahasa Kalbu* dinyanyikan selain Titi DJ. Atau lagu-lagu Bimbo dibawakan penyanyi-penyanyi sekarang. Secara materi suara, olah vokal, barangkali mereka oke. Tetapi bagaimana dengan penjiwaan?
“Sebuah karya sastra yang  baik adalah yang apabila selesai dibaca mampu menimbulkan gugahan rasa atau rangsangan berpikir, yang dapat melembutkan kembali hati manusia yang terbekukan oleh kehidupan yang kian bersifat kebendaan, dewasa ini"
Pengertian sastra di atas saya kutip dari perkataan seseorang, sayangnya sumber tidak terdokumentasi. Pengertian yang begitu dalam pengaruhnya dalam diri saya. Saya yang memang seorang awam tentang sastra. Sampai sekarang, masih terus berusaha memaksa diri agar bisa menikmati karya-karya yang dinobatkan sebagai karya sastra. Masih terengah-engah pula dalam memahami teori sastra.
Memberi pengaruh positif ke dalam jiwa manusia. Menggerakkan pikiran pembaca! rtu saja yang saya pahami dari sebuah karya sastra yang baik. Berkaitan dengan hal itu, maka totalitas menjadi syarat utama
“Totalitas, bagaimana cara melatihnya?” sang teman kembali bertanya.
“Sebelum konser, Krisdayanti lari keliling lapangan sepak bola sebanyak tiga atau lima atau tujuh kali tiap pagi untuk melatih napasnya. Dia juga sangat giat berlatih koreografi, di samping sangat detail memilih kecocokan busana dengan aksesori dan riasan wajah.”
“Hubungannya dengan menulis?” “Cintailah aktivitasmu secara total, hingga rasa itu akan menuntunmu melakukan segala hal yang diperlukan dalam proses menulismu tanpa bosan, tanpa beban. Riset, pilih diksi, revisi.”
Leo Tolstoy menulis ulang novel Perang dan Damai-nya sampai tujuh kali dengan tulisan tangan. Imam Ghazali rata-rata menulis 18 halaman per sehari padahal masih memakai tinta tutul.
Saya memang telah berkata, saya telah menjawab pertanyaan sang teman tentang sebuah totalitas. Praktiknya? Saya yang menulis dengan komputer, masih sangat jauh dari apa yang telah dilakukan oleh Tolstoy dan Ghazali.
Totalitas. Memang bukan sesuatu yang mudah. Saya sengaja menulis soal ini untuk menguatkan tekad pada diri. Semoga ada gunanya bagi pembaca semua. (jazimah al-muhyi)
Totalitas Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar