Ahli Fiqh Yang Rupawan
Tokoh kita satu ini termasuk salah seorang (Sari tujuh ahli fiqh Madinah, la adalah Sulaiman bin Shurad bin Jaun bin Abui Jaun bin Munqidz bin Rabi’ah bin Ashram al-Khuza’i. Nasabnya masuk dalam keluarga besar Bani Khuza’ah, tanpa ada versi lainnya.
Para sejarawan menyebutkan beberapa sifat baik Sulaiman, la dikenal sebagai orang yang sungguh-sungguh dalam beribadah dan termasuk yang wajahnya paling tampan (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9 him 254.) ia juga fokus menganalisa, tampan wajah dan penampilan, terbaik dan utama dalam hal agama dan ibadah (Al-lsti'ab' oleh Imam al- Ourthubi).
Memang, dia mempunyai keutamaan dan sebaik-baik orang yang gemar ibadah dan ahli fiqh yang selalu memahami agamanya melebihi Muslim pada umumnya. Bagaimana mungkin ia tak memahami agamanya lebih baik dari yang lain sementara dia adalah salah seorang dari tujuh ahli fiqh Madinah!
Rasulullah saw telah menjanjikan surga kepada banyak orang yang di antara sifat mereka adalah pemuda yang dipanggil oleh seorang wanita yang berharta dan berparas cantik, lalu ia mengatakan takut kepada Allah. Lalu, apa hubungan Sulaiman dengan hal ini? Sulaiman pernah mengalami peristiwa yang sangat sulit ini. Berikut kisahnya.
Saat itu Sulaiman berada di tempat tinggal para haji, la telah menjadi seorang ahli fiqh yang besar. Sulaiman adalah seorang yang rupawan, baik wajah maupun penampilannya. Bersamanya ada seorang teman. Lalu ia berkata kepada temannya, “Pergilah ke pasar para haji seperti kebiasaanmu setiap hari dan belilah keperluan kita.” Berangkatlah orang tersebut untuk keperluan itu. Tidak berlangsung lama datanglah seorang wanita cantik menemui Sulaiman, ia berkata, “Marilah Sulaiman!”
Wanita itu terus merayunya. Tak ada yang dapat dia lakukan kecuali menangis. Tangisnya semakin sedu setiap wanita itu mendekatinya, la kembali menangis dan semakin keras tangisnya hingga wanita itu luluh dan berhenti melampiaskan niatnya.
Sulaiman terduduk seraya menangis. Lalu datanglah temannya tadi yang mendapatinya dalam keadaan menangis, ia bertanya,
“Apa gerangan yang membuatmu menangis, wahai Sulaiman?” Sulaiman menjawab, “Baik-baik saja, insya Allah.”
Lalu temannya itu bertanya, “Mungkin engkau mengingat anakmu atau keluargamu?"
Dia menjawab, “Tidak.”
Lalu si teman ini terus menerus meminta jawaban, “Demi Allah, agar kiranya engkau memberitahukan mengapa engkau menangis?” Kemudian temannya beranjak pergi. Sulaiman bangkit dari tempatnya. Dalam tidurnya Sulaiman bermimpi melihat Nabi Yusuf. Lalu Sulaiman bertanya, “Apakah engkau Yusuf?”
la menjawab, “Ya, akulah Yusuf yang engkau pikirkan pikirkan.”
Sulaiman bangun dari tidurnya dengan gembira mendapatkan mimpi tersebut, yang sepertinya dia rasakan. Benar, lalu dia takut kepada Allah dalam dirinya dan dalam kehormatan dan hak-hak umat manusia. Ketika temannya datang dia segera menceritakan mimpinya. Temannya inilah yang meriwayatkan kisah ini.
Dulunya Sulaiman adalah budak Ummul Mukminin Maimunah binti al- Hants, istri Rasulullah saw. Kemudian dia memerdekakannya dengan sistem akad mukatabah (membayarkan sejumlah uang yang dihasilkan dari jerih payah kepada tuannya.) ia merdeka setelah sejumlah uang itu ditunaikannya.
Jika Sulaiman hidup semasa dengan salah satu dari istri Rasulullah saw dan meriwayatkan hadits darinya dan dari Aisyah, maka kita menyimpulkan bahwa secara umum dia termasuk generasi pertama tabiin di Madinah.
Sulaiman tinggal di Madinah dalam kurun waktu yang lama, hingga datang masa Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah bagi kaum Muslimin. Setelah itu dia menetap di Kufah, Iraq. Di sana dia membangun rumah, la termasuk rombongan pertama kaum Muslimin yang pindah ke Kufah. Dia cukup umur, mempunyai kedudukan, kehormatan dan perkataan yang didengar oleh kaumnya. Sulaiman termasuk di antara mereka yang dekat dengan Ali bin Abi Thalib.
Sulaiman bin Yasar juga ikut dalam peristiwa Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib. Dia ikut serta dalam duel satu lawan satu pada hari itu.
Setelah Ali wafat, rumahnya di Kufah menjadi markas kepemimpinan al- Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dia juga terlibat dalam pertemuan penting yang dihadiri lima orang tokoh pendukung Ali saat itu.
Setelah terbunuhnya al-Husain, mereka berlima datang ke rumahnya karena melihat kedekatannya dengan Rasulullah saw. Mereka juga berduyun menemui al-Musayyib bin Najiyyah al-Fazari, salah seorang pengikut terbaik Ali bin Abi Thalib.
Sulaiman selalu giat dalam beribadah dan menjadi ahli fiqih yang terhitung sebagai salah seorang ahli fiqh besar Madinah. Dia sangat baik, mulia dan sangat menjaga agamanya.
Pertemuan itu terwujud atas dasar pembahasan tentang balas dendam atas terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa rasa malu mereka itu tidak tercuci (menjadi bersih) kecuali dengan menghukum mati pembunuhnya, atau terbunuh dalam (upaya) itu.
Dalam pertemuan itu al-Musayyib juga angkat bicara. Dia mendukung pendapat tersebut, lalu diamini oleh para orator. Di antaranya Rifa’ah bin Syidad al-Bajili, Abdullah bin Said bin Nufail al-Azdi dan para pendukung al-Husain lainnya.
Kemudian Sulaiman angkat bicara, “Demi Allah, sesungguhnya saya khawatir kalau akhir kita sampai pada masa yang terdapat tipu muslihat kehidupan, musibah yang besar, kezaliman yang menimpa orang yang berhak dengan kemuliaan dari pada para pendukung ini, karena ia adalah yang terbaik. Sesungguhnya kita telah siap menjulurkan leher kita hingga datangnya keluarga Nabi, kita berikan pertolongan, dan mengajak mereka untuk datang."
Dia melanjutkan orasinya, “Dan tatkala mereka datang, maka kita nantikan, kita tunggu apa yang terjadi hingga anak Nabi kita (maksudnya Husain) terbunuh di tengah-tengah kita. Tatkala ia mulai berteriak, namun tidak ada yang menyambut teriakan itu.”
Sulaiman mengajak untuk segera memerangi si pembunuh, dia mengatakan, Tajamkanlah pedang- pedang kalian, dan naikilah kendaraan, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.... '.(QS.al-Anfal: 60). Hingga kalian dipanggil saat kalian nanti dipanggil dan siap maju.”
Tak hanya pada batas ini, Sulaiman juga menulis surat kepada gubernur di Madain saat itu, yaitu Saad bin Hudzaifah bin Yaman. Dia mengajaknya untuk mendukung penyerangan dalam rangka menuntut balas atas terbunuhnya al- Husain, serta mengajaknya untuk ikut serta.
Ternyata balasan dari Saad bin Hudzaifah bin Yaman mendukung isi surat dari Sulaiman. Surat menyurat dan ajakan itu berakhir dengan keluarnya Sulaiman ditemani oleh
Musayyib bin Najiyyah serta empat ribu pasukan. Lalu Ubaidillah bin Ziyad menemui mereka di tempat yang bernama Ain ai-Wardah. Sulaiman pada hari itu dijuluki Amir at-Tawwabin (pemimpin bagi orang- orang yang kembali), sebab dia dan para penngikutnya telah meninggalkan peperangan bersama dengan al-Husain, lalu tatkala terbunuh, dia menyesal dan juga Musayyib bin Najiyyah al-Fazari serta semua orang yang lemah tatkala tidak ikut berperang bersama dengan al-Husain, hingga mereka mengatakan “bahwa kita tidak ada taubat atas apa yang telah kami kerjakan kecuali dengan membunuh diri kami dalam rangka menuntut balas kematiannya.”
Mereka mendirikan barak untuk permulaannya di Nakhilah, yaitu suatu tempat dekat ‘Ain al-Wardah yang menjadi tempat pertemuan dua pasukan dengan panglima Sulaiman dan teman-temannya, dan pasukan Abdullah bin Ziyad dengan panglima perang Surakhbil bin al-Kala’. Orang- orang itu berperang dengan sengitnya, sehingga pada pertempuran itu ikut tewas salah satu ahli fiqh Madinah, Sulaiman bin Yasar dan temannya al-Musayyib. Dia dibunuh Yazid bin al-Hushain bin Namir ketika membidiknya dengan panah. Sedangkan kepalanya dibawa kepada Marwan bin al- Hakam saat itu juga.
Saat Sulaiman tewas dia berumur 93 tahun. Namun ada juga pendapat yang menyebutkan ia meninggal pada 109 Hijriyah dan lahir pada 34 Hijriyah.
(M. Najamudin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar