Kaum Muslimin itu ibarat bangunan, la akan berdiri kokoh jika setiap bagian dari bangunan itu terbuat dari bahan yang kuat. Kumpulan bagian-bagian itulah yang akan membentuk jamaah.
Untuk itu, dua hal inilah—kekuatan diri dan jamaah—harus dikokohkan. Pertama, takwin asy syakhshiyah al-islamiyah (pembentukan kepribadian Islam). Ciri-cirinya, selain beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pribadi Muslim itu tidak memiliki keraguan dan siap berjihad dengan segala daya. Allah berfirman,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyaiah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Aiiah dan Rasui-Nya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jaian Aiiah. Mereka ituiah orang- orang yang benar” (al-Hujurat: 15).
Selain itu,
kekuatan pribadi Muslim bisa dilihat juga dari ketakwaannya, la harus mempunyai
ketakwaan yang sebenarnya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang
beriman, beriakwaiah kepada Aiiah sebenar- benar takwa kepada-Nya; dan
janganlah sekaii-kafi kamu mati melainkan daiam keadaan beragama islam” (QS Ali Imran: 102).
Selanjutnya,
kepribadian seorang Muslim dapat dilihat juga dari kehidupannya sehari-hari, la
harus menjadikan seluruh desah napas kehidupannya beraroma Islam. Tak ada
tingkah lakunya yang lepas dari nilai- nilai Islam. Syariat Islam menjadi
pedomannya dalam mengarungi bahtera kehidupan
ini. Ketika
ia terjun ke dunia bisnis, maka ia berdagang dengan sentuhan Islam. Saat terjun
ke dunia politik, ia tak melepaskan “jaket” keislamannya. Inilah makna kaaffah
(sempurna) sebagaimana yang
dijelaskan Allah dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS al-Baqarah: 208). la harus melakukan islamul
hayah (islamisasi kehidupan).
Para individu
yang telah menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan inilah yang menjadi
modal terbentuknya jamaah.
Kedua,
takwin ruh al-jama’ah
(pembentukan semangat berjamaah). Allah berfirman, "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan,
sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka
menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan
shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu
akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana” (QS at-Taubah: 71).
Untuk Itu diperlukan
langkah-langkah nyata agar kekuatan jamaah tersebut menjelma nyata.
Menyimpulkan kekuatan jamaah harus diawali dengan kedekatan kita kepada Allah.
Semakin erat pegangan kita kepada agama Allah, kekuatan jamaah akan semakin
besar. Sebaliknya, semakin jauh kita dari nilai- nilai rabbaniyah, kian lemah juga kekuatan
kita. Allah berfirman, “Dan berpeganglah
kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) ber-
musuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat- ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”
(QS Ali Imran: 103).
Langkah
selanjutnya adalah tidak berpecah belah. Sebenarnya, rangkaian kewajiban kita
kepada Allah yang dilaksanakan dengan baik akan turut mempererat ikatan jamaah
kaum Muslimin. Makin tinggi tingkat ketaatan umat Islam terhadap aturan Allah,
makin erat pula ikatan jamaah mereka. Inilah yang menjelaskan mengapa kekuatan
berjamaah ini begitu besar di masa Rasulullah saw.
Penyebabnya, mereka begitu dekat
dengan Allah juga begitu tinggi tingkat ketaatan mereka kepada-Nya.
Allah berfirman, uDengan
kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-
Nya serta dirikanlah
shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan
mereka” (QS ar-Ruum: 31-32).
Selanjutnya, ta’Hf al-qutub (menyatukan hati). Allah
berfirman, “Dan yang
mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) walaupun kamu
membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana”
(QS al- Anfal: 63)
Meski jasad
mereka berjauhan, tapi hati mereka tetap menyatu. Jika hati tetah menyatu, ia
tak memerlukan seruan dan teriakan. Naluri kemanusiaannya akan langsung aktif.
Ketika ada saudaranya seiman ditimpah bencana, nuraninya segera memberi tahu.
Hatinya tak bisa tenang, la akan berontak dan mencari upaya untuk memberikan
bantuan. Mungkin ia tak bisa memberikan bantuan secara fisik dan harta, tapi ia
bisa berdoa.
Sebaliknya,
manakala hati tidak menyatu, meskipun jaraknya amat berdekatan—boleh jadi
bahkan menempel satu sama lain—ia tetap tak bisa merasakan kesulitan
saudaranya. Hatinya mati dan tidak sensitif terhadap penderitaan saudaranya.
Meskipun
saudaranya itu berteriak, ia tetap tak merespon karena hatinya sudah mati dan
tak bisa menyatu dengan hati saudaranya yang lain. Hanya hati yang hiduplah
yang bisa menaut dengan hati saudaranya yang lain. Allah menjelaskan,
"Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu ku dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS al-Hujurat: 10).
Terbentuknya
kekuatan jamaah merupakan modal utama penyelamatan umat. Yang harus dilakukan
selanjutnya adalah selalu menyeru kepada kebaikan. Karenanya seorang Mukmin,
tak cukup menjadi shalih, tapi juga harus menjadi mushlih (menyebabkan orang lain shalih). Seluruh tindak
tanduknya selalu berorientasi pada kebaikan dan kemaslahatan untuk orang
banyak, bukan diri sendiri. Segenap tindakannya harus bernafaskan kebaikan.
Setelah itu,
melalukan amar makruf dan nahi munkar. Dua hal ini tak boleh dipisahkan.
Mungkin banyak yang sanggup mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan
memerintahkan pada yang makruf. Namun, amat sedikit di antara mereka yang
berani melakukan nahi munkar. Tindakan ini memerlukan keberanian tersendiri.
Padahal, nahi munkar dengan amar makruf kedudukannya sama: tak terpisahkan.
Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan
mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali Imran:
103).
Jika takwin
asy-syakshiyah dan ruh
al- jama'ah ini bisa
dilaksanakan, kita bisa berharap kemenangan segera menjelang dalam waktu yang
amat dekat. Keduanya pun harus diwujudkan secara bersamaan. Kepribadian Muslim
yang baik, takkan bisa berdiri lama jika tak dibarengi dengan pembentukan
semangat berjamaah, la takkan memiliki kekuatan untuk berdiri dan tak mempunyai
kemampuan untuk bertahan.
Sebaliknya, semangat berjamaah takkan mungkin terwujud manakala setiap
kekuatan individu belum terbentuk. Kekuatan jamaah adalah kumpulan dari kekuatan
individu. Keduanya mesti terwujud secara bersama- sama. (Hepi Andi B)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar