Pembentukan individu yang baik. Dari sinilah kita harus memulai. Semuanya diawali dari sini, dari setiap pribadi. Jamaah besar ini diawali dari pribadi-pribadi. Kerja dakwah tak seperti sulap yang bisa menjelma besar begitu saja, la—sekali lagi—diawali dari pribadi, kelompok, halaqah, lalu jamaah. Jamaah besar ini diawali dari Khadijah, Abu Bakar a$h-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib. Merekalah pribadi-pribadi yang pertama kali menjadi pondasi bangunan dakwah.
Bentukan jamaah memerlukan waktu, la bukan kerja seperti Sangkuriang yang bisa diselesaikan semalam, la memerlukan tahapan. Dan tahapan pertama yang melandasi tangga panjang itu adalah pendekatan keimanan. Beriman! Bukan menjadi Muslim.
Mengajak
orang lain menjadi Muslim, itu penting. Tapi menjadikannya sebagai Mukmin, itu
perkara lain. Negeri kita dihuni oleh sebagian besar Muslim. Status mereka
Muslim. Namun mengapa masih banyak koruptor, maling, penjahat dan pelaku tindak
kriminal lainnya? Jawabannya, mereka baru sebatas Muslim. Mereka belum beriman.
Karenanya, ketika Arab Badui datang kepada Rasullullah dan menyatakan bahwa
mereka beriman, Allah menyangkal; mereka belum beriman. Mereka baru menjadi
Muslim. "Orang-orang Arab Badui itu berkata, uKami Telah beriman." Kata kanfah, “Kamu belum beriman, tapi
katakanlah 'kami telah tundukKarena iman itu
belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia
tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS al- Hujurat: 14).
Menjadi
Muslim mungkin bisa ditandai dengan pengakuan lisan. Ketika seseorang telah
mengucapkan syahadat, shalat. puasa, zakat atau bahkan haji, ia bisa dianggap
telah menjadi Muslim. Namun, ia belum tentu menjadi Mukmin. Keimanan seseorang
tak cukup ditandai dengan penglihatan kasat mata.
Di antara
ciri seorang Mukmin adalah keyakinannya yang teguh dalam menjalankan Islam.
Mereka tidak ragu untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya. Mereka juga tidak ragu
berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Allah berfirman, “Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada
Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad)
dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka Itulah orang-orang yang
benar” (QS al-Hujarat; 15).
Nah, keyakinan ini tak bisa dilihat dengan kasat mata dan pengakuan lisan
semata.
Selain yakin, keimanan
seseorang juga ditandai dengan keridhaannya menerima putusan Allah dan
Rasul-Nya. Apa pun yang telah ditetapkan oleh Allah, ia tidak mengeluh. la
tidak berkesah. la tunduk, patuh dan menerima. Allah berfirman, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya(QS an-Nisaa’ : 65).
Tak hanya tunduk dan menerima, seorang Mukmin juga mesti mendengar dan
taat. Taat berarti menjalankan apa yang diperintahkan Allah. Apa pun perintah
itu, ia jalankan meski belum bisa memahami hikmahnya. Para sahabat Rasulullah,
menjadi teladan utama kita dalam hal kepatuhan. Allah berfirman, "Sesungguhnya jawaban
orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul- Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar, dan kami patuh. m Mereka itulah orang-orang yang beruntungtm (GS an- Nuur: 51).
Namun demikian, ketaatan mesti ada panduannya. Yaitu, orang-orang yang menggunakan hujjah dan dalil yang nyata. Dalam Islam, sikap taklid buta harus dihindari. Allah berfirman, "Katakanlah, °Inilah jalan (agama)-ku, Aku dan orang- orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS Yusuf: 108).
Keimanan seseorang juga ditandai dengan tidak adanya niat dalam hatinya untuk mencoba mencari pilihan lain kecuali yang telah Allah tetapkan, la tak pernah berusaha mencari ajaran selain Islam. Allah berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Ba- rangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul- Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS al-Ahzab: 36).
Kekuatan individu ibarat batu bata bagi sebuah bangunan, la harus kokoh kalau bangunan ingin kuat.
(Hepi Andi B)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar