Seorang tersangka pencuri sepeda motor terlihat tengah dikejar-kejar polisi. Dori Dor! Dor! Terdengar suara tembakan diiringi bentakan berkali-kali. Tersangka Itu berhasil dicokok. Kepala dan wajahnya bengap tak keruan, setelah dihajar banyak tangan. Kakinya berdarah-darah. Badan yang penuh tato itu tampak merintih kesakitan. Alasan penembakan, menurut polisi, karena si tersangka berusaha melarikan diri.
Peristiwa di atas bukan adegan film Hollywood yang marak siar di tayar kaca rumah kita. Tapi, “kejadian nyata yang hadir dalam program berita kriminal di sebuah stasiun televisi. Berita sejenis, dan yang lebih berdarah-darah, tentu lebih banyak. Yang patut disayangkan, acara-acara berbau kekerasan seperti itu ditayangkan pada jam-jam yang memungkinkan semua keluarga, termasuk anak-anak, menonton.
Dalam majalah Anakku edisi 4 tahun 2000, Dr. Martin Leman menceritakan tentang Andi, seorang suami yang mengajak istri dan anaknya yang baru berusia 7 tahun, berlibur, d sebuah vila di kawasan Puncak. Istri dan anaknya tentu gembira mendengar rencana liburan itu. Setibanya di vila, sang anak mencari-cari televisi, namun tak kunjung ia temukan. Ternyata penginapan itu memang tidak menyediakan fasilitas televisi Anak lau tampak jengkel dan mengeluh, 'Kalau tak ada TV.... apa yang bisa saya kerjakan di sini? Lebih enak di rumah saja...”
Televisi telah menghpnotis anak-anak. Ironisnya, banyak orang tua yang merasa aman kalau anak-anaknya tenang d rumah menonton TV, mereka ke luar rumah, meniti karir atau bersenang-senang. De Franco, dalam TV On Box, menuding orang tua telah menyalahgunakan anak-anak untuk keuntungan mereka dengan membuat TV menjadi seperti "pengasuh anak'. Kalau dipikir-pikir, masih untung jika "sekadar” pengganti bagi pengasuh anak, bagaimana kalau menjadi orang tua?
Adegan kekerasan, penganiayaan, pomo- aksi dan mistik, tiap hari bisa kita saksikan di hampir semua stasiun televisi. Satu pertanyaan untuk kita. Siapakah yang mau dan harus bertanggung jawab terhadap berbagai kekerasan dan tragedi yang menimpa anak-anak bangsa ini, sebagai akibat kebrutalan TV.
Siapa yang harus bertanggung jawab, ketika Novia Anggi Fatona Bakti (8,5 tahun), anak pasangan Sumirat-Siti Juwariyah, warga Bantul, Yogya, pada tahun lalu berusaha menjerat lehernya sendiri dengan selendang ke atas lubang angin jendela kamarnya. Orangtuanya sempat merasa bersalah. Anaknya minta dibelikan sepeda baru. "Sepedanya kami jual,” kata Juwariyah.
Lalu, sejak menonton berita di televisi tentang seorang anak di Bandung yang nekat gantung dri, tiga hari sebelum ia melakukan perbuatan nekatnya, Anggi sering melamun. Puncaknya, ketika disuruh menyapu, Anggi malah masuk kamar dan tidak keluar-keluar, hingga akhirnya Ia diketahui gantang diri.
Dalam sebuah seminar, seorang guru taman kanak-kanak mengeluh, la menceritakan sejumlah anak didiknya yang selalu bertindak agresif. Setup hari anak-anak yang rata-rata berusia lima tahun sangat senang bermain perang-perangan dan meninican gaya action di televisi. Anak anak itu, kata sang guru, sangat terobsesi dengan tokoh dari film kesukaan mereka. Karena sangat terobsesi- nya dengan tokoh dalam film Itu, anak-anak malas mendengarkan dongeng atau cerita dari sang guru.
Menurut American Academy of pediatrics, sebuah lembaga di AS yang peduli terhadap nasib anak-anak, sebagaimana dikutip Dr. Martin Leman, pokok persoalan yang paling besar adalah ketidakmampuan seorang anak kecil membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan apa yang sebenarnya. Bagi orang dewasa, tentu tahu bahwa yang namanya Rambo, Zombie, dan lainnya adalah karangan saja. Orsng dewasa juga tahu bahwa yang dibunuh atau ditembak dalam film itu, tidak sungguh- sungguh. Sedang kebanyakan anak-anak belum mengenal apa yang dimaksud akting, efek film, tipuan kamera, dan sebagainya.
Etek negatif lainnya, masih menurut lembaga tersebut, anak yang terlalu banyak menonton TV, menjadi pasif dan tidak kreatif. Sebab, orang yang menonton TV tidak perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk, mendengar dan melhat apa yang ada di TV. Kemampuan berpfcir dan kreativitas anak menjadi tidak terasah.
Efek buruk lainnya adalah "candu" yang dberikan oleh TV. Orang dewasa saja jika sudah kecanduan film, sinetron atau telenovela, bisa lupa segalanya Jika orang tua saja tak bisa menahan diri untuk tidak menonton sinetron atau telenovela, bagaimana dengan anak-anak dengan tontonan kesukaannya seperti Pokemon, Doraemon, Dragon Ball, dan sebagainya? Padahal dalam sebuah penelitian disebutkan 60% film kartun yang banyak dtonton anak-anak berisi kekerasan.
Beberapa tahun terakhir angka bunuh dri yang dilakukan anak-anak di negeri ini terus meningkat Sesuatu yang tak pernah terdengar di era 1980-an. Mengapa?
Ninik L Karim, seorang psikolog dari Universitas Indonesia, mengaitkannya dengan sinetron dan film di televisi, baik produk lokal maupun impor, yang menurutnya, lebih dari 70% bernuansa kekerasan.
Menurut Ninik, tayangan film dan televisi, memang sangat berpengaruh bagi seorang anak. Seorang anak lahir bak kertas putih yang suci. Saat itu, kata Ninik, mereka belum memiliki kesempatan untuk memilih. Maka, lingkung- anlah yang akan menulis kertas itu. Rasulullah saw menyatakan bahwa seorang anak dilahirkan suci, yang menjadikannya Yahudi. Nasrani dan Majusi, adalah kedua orangtuanya. Artinya, jelek baiknya anak dan bagaimanapun lingkungan membentuk mereka, terpulang pada peran orang tua.
Menyetop anak menonton TV atau meniadakan pesawat televisi di rumah, tentu bukan menyelesaikan masalah. Di rumah lak ada TV, anak-anak itu bisa menonton di tempat kawannya, cfi rumah tetangga kita, tanpa bimbingan kita. Yang paling penting, adalah peran orang tua untuk memilihkan jenis tayangan yang layak dtonton anak-anak.
Karena, mengharapkan peran dan tanggung jawab pemerintah saat ini, sama sufitnya mengharap bagusnya acara-acara televisi. Orang tua lah yang hams 'menyensor’ berbagai tayangan buruk bagi anak-anaknya. Diperlukan—meminjam istilah Orde Baru—sebuah "waskat” (pengawasan melekat) dari para orang tua. Jika tidak maka kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Allah berfirman:
“Hai orangorang yang beriman, jagalahdirimu dan keluargamu dari api neraka... (QS at-Tahrim: 6)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar