Geliat Masjid Bersejarah Di Singapura

Geliat Masjid Bersejarah Di Singapura


Siang itu, Jumat (6/1), cuaca cukup cerah. Matahari menyinari ‘negeri kota' yang beberapa hari sebelumnya diselimuti mendung dan gerimis, Jarum jam baru menunjuk angka 12.30 pm atau 11.30 WIB, tapi kawasan Muscat Street yang juga dikenal dengan sebutan Kampung Giam, tepatnya di North Bridge Road, terlihat lebih ramai dibanding hari lainnya.

Di kawasan yang banyak memakai nama Umur Tengah, seperti Beirut Road, Bagdad Road, Palestine Road, dan lainnya, ratusan orang berbaju koto, gamis dan berpeci haji, terlihat berjalan kaki menuju satu arah. Di antaranya, banyak yang memarkir atau baru saja turun dari mobil pribadinya. Para eksekutif yang masih mengenakan dasi juga berbaur dengan mereka.

Tepat pukul 01.30 pm atau 12.30 WIB adzan berkumandang. Masjid tiga lantai terisi penuh oleh jamaah, bahkan luber ke halaman depan dan samping. Saat naik mimbar, khatib mengulas keutamaan ibadah haji dan kurban, tanpa menyinggung problem sosial, ekonomi apalagi politik umat. Kenapa khatib tak menyinggung masalah sosial-ekonomi umat? Bukankah dalam setiap komunitas selalu ada persoalan? Di sini, sepertinya adem ayem saja’ ujar rekan wartawan yang penasaran seusai shaiat.

Shalat Jumat di Masjid Sultan, masjid terbesar di Singapura, merupakan salah satu agenda perjalanan jurnalistik rombongan wartawan Indonesia. Panitia Indonesian Journalists Visit Programme dari Singapore Ministry of Information, Communications and the Arts (MICA), membawa Sabili dan beberapa jurnalis Muslim ke masjid ini. Kami pun berbaur dengan ribuan jamaah. 

Masjid Sultan merupakan masjid bersejarah di Singapura. Dibangun oleh Sultan Hussein, Penguasa Kesultanan Johor-Riau. tahun 1824. Atau. Mma tahun setelah Sir Thomas Stanford Raffles menancapkan kekuasaannya di pulau ini. Saat itu, masjid ini dibangun dengan bata merah beratap bumbung (pendopo) tiga lapis, seperti model Masjid Demak, di Jawa Tengah.

Tahun 1925, atas prakarsa keturunan Sultan Hussein, Tengku Alam dan Halimah, serta Komunitas Muslim Singapura, masjid ini direnovasi dan diperbesar. Dengan mengadaptasi arsitektur dari beberapa negara, seperti Turki, India, Persia, Moorish. Jawa. Bugis, dan Melayu, masjid pun dibangun kembali.

Kini, kubah dan menaranya yang berlapis emas menyembul, memancarkan sinar keemasan dl antara lebatnya belantara perv cangkar langit. Bahkan, masjkl yang bisa menampung 5.000 jamaah Ini, juga dilengkapi dengan auditorium ber AC di ketiga lantainya. Lantai pertama bisa menampung 425 orang, lantai dua 308 orang dan lantai tiga 117 orang.

Aktivitas memakmurkan masjid cukup beragam. Selain ibadah rutin, pengurus masjid juga menyelenggarakan kegiatan tambahan. Antara lain, kursus Bahasa Arab (Senin sore), fiqih (Selasa sore), tajwid (Rabu sore), iqra (Rabu sore), tafsir Bi-Qur'an (Karras sore), tafsir hadfts (Jumat sore), dan tahsin (Jumat malam). Program ini terbuka untuk umum dengan biaya 10 dolar Singapura, sekitar Rp 55 ribu per bulan per paket.

Masjid Sultan memang kebanggaan umat Islam Singapura, tapi masjid ini bukan yang tertua. Adalah Masjid Omar Kampong Melaka yang tercatat sebagai masjid tertua di Singapura. Masjid Omar berdiri <fi kawasan Keng Cheow Street, tepatnya di Melaka Road, terjepit di antara angkuhnya gedung pencakar langit. I alu lintas di depannya juga sepi, karenanya banyak pendatang yang tak mengetahui keberadaan masjid ini.

Masjid Omar didirikan tahun 1620 oleh Syed Omar Ali Aljunied. seorang pedagang Arab asal Palembang. Saat itu, masjkl ini dibangun dari bahan kayu dan papan. Meski begitu. Syed Omar yang dikenal sebagai ulama dan saudagar sukses, mampu mengubah kawasan ini menjadi pusat dakwah Islam di Semenanjung Melayu. Apalagi, letaknya di tepi Sungai Singapura yang menjadi urat nadi transportasi dan perdagangan saat Itu.

Tahun 1855, anak Syed Omar, Syed Abdullah bin Ali Aljunied, merenovasi masjid ini, menggunakan batu bata. Masih di tahun yang sama, keluarga besar Aljunied, mulai mendermakan hartanya dengan membangun sekolah (madrasah), rumah sakit dan men- sponsori kegiatan keagamaan. Tahun 1961 hingga 1985, masjid ini kembali direnovasi dan diperluas.

Meski berada di kawasan sepi, masjid yang bisa menampung 1.000 jamaah ini. tetap marak oleh aktivitas keagamaan. Selain Ibadah rutin, pengurus masjid juga menyelenggarakan kegiatan lain. Di antaranya, talaqi (pengajian) al-Qur'an (tiap hari), kuliah zuhur (tiap hari), kuliah fiqh dan tafsir (senin sore), iqra (tiap hari), kuliah hadits (rabu sore), kulaih tauhid (rabu malam), dan tahfizal-Our'an program A, B dan C (tiap hari).
Selain itu, berdasarkan Mosque Conventions 2005, Masjid Omar dinisbahkan menjadi Pusat Pendidikan islam bersama Masjid Kampung Siglapdan Masjid Assyafah. Di Masjid Omar. jamaah bisa belajar qiraah, hafalan, sains al-Qur’an.

Selain dua masjid di atas, masih ada beberapa masjid bersejarah yang berperan dalam dakwah Islam di Singapura. Salah satunya. Masjid Hajjah FaUmah yang dibangun pada 1845 oleh saudagar wanita asal Malaka, Hajjah Fatlmah. Masjid yang dibangun sebagal wujud syukur Hajjah Fati- mah karena terhindar dari kebakaran pada 1930-an, ini masih berdiri di kawasan Beach Road Tapi sayang, menaranya miring sekitar 6 derajat

Masjid lain yang cukup tua adalah Masjid Jamae (Chulia). Masjid Ini dibangun tahun 1826 oleh Ansar Saib, seorang saudagar asal India Selatan yang dikenal sebagai o- rang Chulia. Saat dibangun, hanya menggunakan bahan kayu. Tahun 1830 dan 1835, masjid Ini direnovasi menggunakan batu bata lengkap dengan menara berkubah kecil. Kini, masjid ini berdiri kokoh di kawasan South Bridge Road.

Pada 1681, orang India Selatan lainnya, Shaik Abdul Gapore, mendirikan masjid, yang diberi nama Masjid Abdul Ghafoor. Masjid yang terletak di Dunlop Street, tepatnya di Serangoon Road ini, juga berawal dari bahan kayu. Kini, di kawasan yang juga dikenal dengan sebutan "Little India’ ini. berdiri megah Masjid Abdul Gafoor hasil renovasi terbaru.

Penerus keluarga Abdul Ghafoor juga mengembangkan dakwah dengan mendirikan Madrasah pada 1900-an, Kini, madrasah yang bernama Miftahul Ulum ini, membuka kelas mulai tingkat SD hingga SMA.
Masjid-masjid kuno dan bersejarah dl Singapura tak hanya berdiri tegak, tapi juga marak dengan beragam kegiatan, Program memakmurkan masjid diselenggarakan hampir tiap hari. 


Geliat Masjid Bersejarah Di Singapura Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar