Ketika Ramadhan Pergi

Ketika Ramadhan Pergi
Berlalu sudah Ramadhan. Kita selalu berharap semoga tarbiyah Ramadhan membekas dalam pribadi kita. Ramadhan menjadi bekal untuk menjalani sebelas bulan berikutnya. Ibarat pertandingan, Ramadhan adalah pusat pelatihan untuk menghadapi ujian. Siapa tidak siap dia akan kalah.

Bagi masing-masing individu setiap Ramadhan akan memberi kesan tersendiri. Ada yang berkesan dengan sikap keprihatinan. Itu penulis rasakan ketika berkunjung ke Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Bagaimana rasanya berpuasa di tempat pengungsian. Sungguh prihatin luar biasa. Jangankan memikirkan baju lebaran, untuk buka dan sahur saja menunggu kiriman dari Posko pengungsian.


Ada yang terkesan dengan ukhuwah yang ditampilkan oleh sebagian saudara kita ketika menyikapi tanggal 1 Syawal (idul fitri) yang berbeda. Ada juga yang terkesan dengan ketaatan umat Islam pada pemimpin. Taat, tanpa menodai ukhuwah.

Inilah kenyataan yang sedang kita hadapi. Hidup di negara yang mayoritas muslim tanpa pemimpin yang disegani dan tanpa ulama yang berwibawa. Akibatnya untuk menentukan hari rayanya saja masih bimbang.

Ada juga yang terkesan dengan potensi umat Islam. Lihat ketika lebaran semakin dekat. Berapa juta motor, berapa ribu kendaraan, bis dan mobil pribadi yang berangkat mudik. Hitunglah berapa biaya yang keluar untuk pesawat dan kapal yang kita gunakan. Belum lagi uang belanja untuk membeli baju dan ketupat lebaran. Kalau potensi ini bisa kita arahkan tentu akan menjadi kekuatan yang dahsyat.
Namun, sayang seiring berlalunya Ramadhan, "keanehan-keanehan' pun terjadi. Seakan Ramadhan adalah kekangan dan Syawal adalah pembebasan. Ketika kekangan itu lepas, nafsu liar pun diumbar. Bebas sebebas-bebasnya. Naudzubillah min dzaiik.
Silaturahim di bulan Syawal menjadi ajang pamer baju dan harta. Ketupat dan kue lebaran berlomba-lomba mengisi perut. Bahkan untuk memenuhi keperluan lebaran, sebagian orang menyikat harta haram. Lalu apa arti sebulan penuh menahan lapar dan haus?
Sebagai Muslim tentu kita prihatin dengan sikap berlebihan dari sebagian saudara kita. Karena mubazir adalah saudaranya setan. Tidak selayaknya menyikapi perginya Ramadhan dengan sikap bebas, sebebas- bebasnya. Amat mengherankan, memang. Seolah syariat Islam hanya ada di bulan Ramadhan. Padahal takwa adalah pakaian yang harus melekat dalam diri kaum Muslimin. Kapan dan di mana saja. Tak hanya di bulan Ramadhan.
Di antara hal-hal yang harus kita jaga agar Ramadhan senantiasa membekas adalah: Pertama, atmosfir ketakwaan harus senantiasa menjadi udara yang memenuhi rongga nafas kita. Alhamdulillah, ketika Ramadhan, kita mendapati kaum Muslimin berlomba- lomba untuk mencapai kebaikan.
Tak hanya menahan lapar dan haus di siang hari, malam harinya kaum Muslimin melakukan qiyamul lail atau tarawih. Dini hari bangun sahur. Siangnya beraktivitas mencari nafkah, sambil berpuasa. Lidah di hari-hari Ramadhan pun basah oleh zikir dan tilawah. Di akhir Ramadhan diisi dengan ilikaf dan zakat fitrah. Di bulan Ramadhan, kaum Muslimin menjadi pemurah, enteng bersedekah. Rasa malu pun hinggap ketika meninggalkan ibadah sunnah, apalagi yang wajib. Demikian ringan untuk beribadah. Rasanya tak ada tempat untuk bermaksiat. Setan bak terbelenggu.
Kedua, lingkungan yang menyuburkan. Betapa indahnya suasana di bulan Ramadhan. Ternyata dengan Ramadhan kita bisa menciptakan suasana takwa itu. Hotel, Rumah makan dan penjual makanan pun enggan buka di siang hari. Di rumah, kantor ataupun masjid terdekat, ketakwaan itu muncul.
Ternyata jika dilakukan secara bersama, puasa menjadi lebih ringan. Bandingkan jika kita berpuasa sunnah. Contoh yang terdekat adalah puasa Syawal. Ternyata, meski Ramadhan dan Syawal bergandengan, puasa Syawal terasa lebih berat dilakukan walaupun hanya enam hari.Belum lagi Qiyamul Lail dan Tllawah. Amboi, mengapa selalu saja ada alasan untuk meninggalkannya.
Alangkah indahnya jika “kesuburan" syariat Islam ini terus kita jaga. Paling tidak dalam diri kita sendiri. Jika sudah tegak dalam diri, tentu kewajiban berikutnya adalah meneduhkan lingkungan dengan daun-daun takwa itu, agar buahnya menjadi matang dan dapat dinikmati.
Jika atmosfir itu berarti kesadaran dari dalam. Maka lingkunganfah yang menumbuhkan kesadaran itu. Keduanya memang bisa timbal balik. Tapi Nabi mengajarkan ibda bi nafsik, mulai dari diri sendiri.
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu harus merubah jiwa mereka sendiri." (ar-Ra’ad: 11) Ketiga, pola yang harus kita jaga. Selain pupuk, cahaya matahari dan tanah yang dijaga kesuburannya, tanaman yang baik, biasanya dirawat dengan pola tanam yang benar. Jangan menanam kurma di tanah yang basah. Sebaliknya, padi tak akan tumbuh subur di tanah yang kering. Petani yang baik tahu, kapan harus menanam dan kapan pula harus memanen. Semua dilakukan dengan penuh perhitungan yang matang.
Ramadhan telah mengajarkan kita bahwa ternyata makan yang biasanya tiga kali, bisa kitakurangi menjadi dua kali. Tidur yang biasanya delapan jam pun bisa kita kurangi. Toh, dengan tidur dan makan yang berkurang itu, justru aktivitas ibadah kita meningkat. Subhanallah.
Ahli-ahli kedokteran menyimpulkan bahwa kesehatan manusia sering terganggu akibat dua pola yang tidak terjaga, pola makan dan pola tidur. Faktanya, di Indonesia ini justru pertumbuhan rumah makan seiring dengan pertumbuhan jumlah rumah sakit atau klinik berobat.
Semua harus dilakukan dengan seimbang. Terlalu banyak makan akan sakit. Teriaiu banyak tidur pun badan tidak enak. Kurang keduanya apalagi. Ramadhan mengajarkan pada kita bahwa kita harus mampu menjaga kedua pola ini.
Tulisan ini mengajak kita untuk senantiasa memelihara bekal yang telah kita siapkan untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya. Semoga kita bisa kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun depan, bulan suci yang selalu kita rindukan kehadirannya. Amin
Ketika Ramadhan Pergi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar