Fajar Islam Menyingsing di Sobomaya

Fajar Islam Menyingsing di Sobomaya

Moskow, Jumat (1/12) siang hari tanpa matahari. Di antara salju yang menggigit, seorang pria keturunan Arab mengumandangkan adzan. Suaranya menggema ke sela-sela apartemen Soviet dan peninggalan monolitik Olimpiade Moskow tahun 1980. Tak lama berselang, kaum Muslimin berduyun-duyun mendatangi Masjid Sobomaya, memenuhi seruan sang muadzin. Masjid berdinding biru itu tak mampu menampung ratusan orang yang ingin melakukan shalat. “Maaf, sudah penuh,” kata seorang lelaki berjanggut dan berkopiah putih yang berdiri menemui jamaah di depan pintu. Sebentar saja, halaman luar masjid penuh sesak. Beberapa terlihat menggelar sajadah. Yang lainnya bahkan meletakkan sobekan kertas koran
.
Tapi, percayakah Anda  bahwa ini terjadi di Rusia? Mari kita tengok lebih dekat
Ada seorang ayah bersama anak laki-lakinya yang berusia delapan tahun. Namanya Zabir Valeev (32). la tak dapat menyembunyikan kekesalannya untuk shalat dalam kondisi seperti itu. Di Masjid Sobomaya, kejadian ini berlangsung hampir setiap Jumat. Dia terpaksa shalat di luar.
“Kami semestinya tak melaksanakan shalat di luar  karena cuaca dingin. Ini menunjukkan tak ada tempat bagi kami untuk beribadah,” kata Valeev.

Masjid Sobomaya adalah satu dari empat masjid yang ada di Ibukota Moskow. Terang saja, bangunan ini tak cukup untuk melayani 2,5 juta umat Islam di Rusia. Kaum Muslimin sebanyak ini merupakan jumlah terbesar di antara kota- kota seantero Eropa. Repotnya lagi, masjid Sobomaya hanya satu-satunya tempat suci yang dibolehkan untuk menjalankan fungsinya setelah komunis tumbang. Di era Uni Soviet, tak ada kesempatan untuk ke masjid akibat tekanan pemerintah.
Hari-hari belakangan ini, suasana di Masjid Sobomaya sama seperti masjid lainnya. Masjid di Moskow penuh oleh jamaah terutama di hari Jumat dan hari besar Islam. Dewan Kemakmuran Masjid berkali- kali meminta izin dari penguasa kota untuk merenovasi dan membangun lebih banyak masjid. Namun usaha mereka selalu membentur tembok tebal.

Di era Komunis Soviet, kaum Muslimin dilarang untuk melaksanakan ajaran agama mereka. Sekarang, mereka kembali ke pangkuan Islam. “Tapi kami hanya memiliki empat masjid di Moskow. Ini tidak cukup. Kami berhak mendapatkan yang lebih," kata Ildar Alyautdinov, imam Masjid Sobomaya.

Jika umat Islam bertambah, akan terjadi proses transisi. Bisa jadi, ketegangan akan berlangsung antara etnis Rusia dan kelompok nasionalis di satu sisi dengan komunitas Muslim di sisi lain. Maka serangan fisik tak ayal terjadi. September lalu, seorang imam di selatan kota Kislovodsk gugur tertembak di depan rumahnya. Sebelumnya, kerusuhan terjadi di bulan Agustus, dimana kerumunan orang yang marah mengusir warga keturunan Chechnya dan imigran lainnya dari wilayah Kaukasus (kulit putih) ke wilayah barat laut kota Kondopoga.
Pemicunya adalah Alexander Belov, pemimpin kharismatik Movement Againts Illegal Immigration (Pergerakan Melawan Imigran Ilegal). Mereka licik memainkan lobi- lobinya. Dalam hitungan bulan, mereka makin kuat. Dalam sebuah wawancara di restoran Chechnya yang terletak di pusat Moskow, Below kembali mencemooh dengan menyebut “islamisasi Rusia".

“Berdasarkan sejarah, Rusia adalah Slavic, Tanah Kristen Ortodoks. Kita akan meyakinkan akan tetap seperti itu.” Dia mengatakan bertambahnya jumlah penganut Kristen Ortodoks seharusnya melestarikan sebagai agama resmi orang Rusia dan jangan mengubahnya menjadi Muslim. Islam sekarang diakui sebagai salah satu agama resmi Rusia, selain Kristen Ortodoks, Kristen, Yahudi, dan Budha. Seperti kaum nasionalis lainnya, Belov menyatakan tidak ada perbedaan antara imigran Muslim dan masyarakat Rusia dalam keyakinan ajaran Islam. Dia mengatakan. Muslim—tidak masalah apa warga negaranya—seharusnya dibatasi dari kehidupan “Negeri Tradisional Rusia”.
Di kalangan warga Muslim Rusia, media sering memancing permusuhan, dengan mem-blow up krisis Chechnya, tema pengeboman dan serangan gerilyawan terhadap penduduk sipil. Televisi Rusia sering menayangkan berita dimana Muslim dicitrakan sebagai kriminal atau agama radikal yang mengobarkan jihad melawan Kristen. Salah satu novel terlaris d Rusia yang berjudul The Mosque of Notre Dame de Paris melukiskan pertengahan abad ke-21 di Eropa. Kala itu, Islam menjadi agama negara dan umat Kristiani terpaksa menjadi minoritas.

Kaum Muslimin Moskow mengkhawatirkan keluarganya sepanjang waktu. Seperti kata Timur (44) pebisnis Moskow berusia 44 tahun, setelah shalat di Masjid Sobomaya. “Saya khawatir jika mereka diserang di jalanan atau di kereta api bawah tanah. Istri saya sekalu menghawatirkan setiap anggota keluarga meninggalkan rumah.”
Setelah shalat Jum’at di masjid, banyak jamaah yang masih tinggal. Secara keseluruhan populasi penduduk Rusia turun 700.000 orang per tahun. Penyebanya adalah masa hidup yang pendek dan angka kelahiran etnis rusia yang tergolong rendah. Berdasarkan analisis CIA World Factbook, secara keseluruhan tingkat kesuburan Rusia 1,28 anak per wanita.

Sejak 1989, populasi Muslim Rusia meningkat 40%. jj Diperkirakan, angkanya akan 25 juta pada tahun 2015. Karena itu, bukan mustahil jika kelak warga Muslim menjadi mayoritas di Rusia. Jumlah warga Muslim bahkan diperkirakan 5 banding 1 di negeri itu pada 2020.
Analisis ini didukung oleh Paul Goble, ahli Islam di Rusia. Menurutnya, jika tren ini berlangsung sampai 30 tahun ke depan, keturunan masyarakat Muslim akan melebihi etnis Rusia. “Rusia akan terus menjadi negeri yang religius,” kata asosiasi peneliti dari Universitas Tartu, Estonia
“Citra Muslim d media sangat menyimpang,” kata Rusham Abbyasov, juru bicara Dewan Mufti Rusia. Rusham mencontohkan, Ketika orang mendengar Allahu Akbar (Allah Maha Besar) mereka berpikir orang akan menembak atau menyerang mereka.

Secara psikologis keadaan ini memengaruhi pemimpin Rusia. Penguasa Rusia yang bingung berusaha keras memecahkan masalah ini. Pada 15 Empat wilayah di Rusia mengeluarkan perintah harus ada mata pelajaran Kristen Ortodoks di semua sekolah pada 15 November. Kabinet Rusia mengumumkan hukum baru yang melarang orang asing bekerja di sektor retail dan di pasar-pasar mulai tahun depan. Memang hukum tidak menyebutkan secara spesifik terhadap Islam, tapi semua tahu mayoritas orang yang bekerja di pasar-pasar adalah Muslim, baik imigran maupun penduduk asli Rusia.

Menurut Goble, timbulnya sikap antiislam sebagai ancaman mendorong kaum Muslimin Rusia untuk mencari jalan keluar dan mereka menghindari sikap radikal. Di masa Soviet, agama ditindas. Mereka dipaksa hidup sekular. Mereka menyematkan Islam sebagai identitas budaya. Tapi, perasaan mereka terhadap Islam terus membara. Menurut Gobel semangat ini yang sering dimanfaatkan sehingga mereka terprovokasi. "Masyarakat yang mengetahui bahwa dirinya Muslim tetapi tidak mengetahui secara kaffah apa yang dimaksud dalam Islam dapat saja berlaku radikal. Apalagi jika mereka merasa bukan bagian dari masyarakat Rusia. Ini adalah ancaman serius,” katanya.

Meski dingin menggigit di Masjid Sobomaya, cahaya Islam datang menghangatkan. Tampak seorang pemuda terdengar berharap kelak, Rusia akan menjadi bagian dari negara Islam. "Ini hanya masalah waktu,” katanya, optimis. (EmanMutyatman)

Fajar Islam Menyingsing di Sobomaya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar