Melipat Gandakan Karunia Allah

Melipat Gandakan Karunia Allah

Dalam al-Qur’an terdapat banyak kisah, yang semuanya mengandung pelajaran bagi orang yang mau berpikir. Salahsatunya adalah kisah Nabi Sulaiman as. Segala kelebihan dan penuangannya telah melahirkan puncak kemuliaan di sisi Allah dan manusia, Kemuliaan di sisi Allah berupa kerasulan, tugas membawa risalah Allah kepada umatnya. Sedang kemuliaan di hadapan manusia ia peroleh lantaran posisinya sebagai raja.

Nabi Sulaiman adalah anak dai Nabi Daud as yang memiliki keterampilan dan keimanan yang kokoh. Setelah Nabi Daud as wafat, Suite- man diangkat menjadi penerus kerajaan ayahandanya. Nabi Sulaiman satu-satunya Nabi yang mampu menaklukkan jin, selain memiliki kelebihan lainnya, Hikmah dan kebijaksanaan dalam memutuskan masalah yang rumit dan kemampuannya menundukkan angin serta memahami bahasa binatang, merupakan anugerah Alah yang lain kepadanya. Semua kelebihan dan anugerah Alah ini tidak membuat Nte* Sulaiman lupa diri. Malah sebaiknya, ia menyadari karunia itu adalah dari Allah. Karenanya, ia selalu bersyukur.
Inilah salah satu sebab Nabi Sulaiman mendapatkan banyak karunia dari Alah. Pandai bersyukur. Alah gambarkan kisahnya dalam al-Quran’an, surah an-Naml:
“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkala: ‘Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara bumng dan kami dtoeri segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) n benar-benar suatu karunia yang nyata..."
berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Alkitab: 'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.' Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana ku terletak di hadapannya, iapun berkata: Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apa- kah aku betsyukir &au aku mengingkari (akan rrionat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (Jw- baikan) tSrinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha MuSa'

Sikap Nabi Sulaiman as, mestinya menjadi tuntunan kita dalam menerima segala karunia Allah. Baik karunia yang berbentuk kesehatan, kekayaan, kesuksesan hidup, atau apapun namanya Semua nkmat hidup yang kla dapatkan. tidak datang tiba-tiba. Nikmat Allah yang juga bisa berarti ujian ini, selain diperoleh dari hasi kerja keras kita, nanun yang utama adalah atas karunia Alah
Jika manusia sekaliber Sulaiman as. Nabi sekaligus raja, begitu besar syukurnya pada Alkah, maka semestinya sebagai manusia biasa, kita lebih bersyukur. Kita bukan Nabi, bahkan terkadang kita tak pernah dianggap oleh manusia lain. Amal kita masih banyak diiringi harapan/pamrih terhadap manusia. Infak kita masih sedikit, jihad kita masih lemah dan nafsu kita sering lebih dominan daripada amal dan perbuatan baik. Segala keterbatasan dan kekurangan, masih meliputi kehidupan kita. Namun demikian, Allah masih berkenan memberikan nikmat-Nya kepada kita. Maka sikap yang tepat bagi kita adalah bersyukur dan menjauhi sikap kufur. Ketaatan apapun yang kita lakukan sesungguhnya belum sebanding, apalagi melampaui khilaf dan dosa-dosa kita. Masih lebih banyak salah dan dosa kita, dibanding anal yang kita lakukan.
Lalu syukur bagaimana yang harus kita wujudkan? Paling tidak ada dua sikap syukur yang harus kita lakukan:
Pertama, meyakini bahwa kenikmatan itu bersumber dari Alah. Sikap ini tercermin dari ungkapan Nabi Sulaiman as 'ini termasuk karunia Rabbku'. Sepantasnya kita meyakini apapun yang kita peroleh bersumber dari A/lah . Besarnya nikmat yang kita peroleh bukan karena kegigihan kita Semua semata atas karunia dan campur tangan AHah. Beragam rakmat mungkin sudah kita rasakan. Mulai dari kesehatan, rezeki yang lancar, teman/ lingkungan yang baik, jabatan yang tinggi, dukungan massa yang besar dan yang tertinggi adalah nikmat iman di dada yang masih bersemayam.
Kedua, menggunakan nikmat ini untuk hal-hal yang diridhal Aliah. Sikap ini tercermin dari ungkapan lanjutan ayat di atas: 'untuk mencoba aku apakah aku bersyukur ataukah mengingkari nikmat- Nya'.
Dalam implementasinya dua sikap syukur ini b(ea mengacu pada sikap Rasulullah saw ketika Fathu Makkah (terbukanya Makkah), yang digambarkan dalam surah an-Nashr: Apabila
telah datang pertolongan Allah dan kemenangan Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima Taubat'

Secara akidah, kita sandarkan segala kemenangan kepada Alah. Secara operasional, kita wujudkan dengan menggunakan nikmat kemenangan itu untuk hal-hal yang diridhal Allah dan bermanfaat bagi orang banyak. Dari sini, harusnya tumbuh kesadaran akan tugas dakwah, meski kemenangan sudah di tangan. Yakni, membangkitkan semangat hidup yang mulai terkikis, dengan cara menghidupkan semangat pengabdian, kepedulian dan kebersamaan. Watahu alam bishshawab.

Melipat Gandakan Karunia Allah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar