Duh,Smackdown!

Duh,Smackdown!

Kamu pasti tahu atau paling tidak pernahsekilas atau mungkin ada yang doyan nonton smackdown. Acara ‘lenong’ berbentuk acton (gulat) ini memang ladang bisnis yang menguntungkan stasiun TV. Tak heran jika acara Ini ditayangkan kembali, walau dulu pernah 'dipensiunkan'.

Lelaki berbadan gede, bertampang sangar, berotot keras, adu jotos di atas ring. Hantaman, tendangan, sikut-sikutan hingga tindih-menindih, mewarnai acting yang bisa dibilang ‘perfect itu. Gimana nggak? Dipukul dan dibanting berkali-kali, tetep aja para pegulat terlihat segar-bugar. Hal ini bisa terjadi karena memang ada

porsi latihan bagi mereka. Selain rtu, semua drama dl atas ring juga merupakan skenario yang telah ditentukan. Walau nanti ada yang menang dan jadi juara, tetap aja bagian dari sandiwara. So, gak perlu heran dan kagetlah!

Anehnya, meski penonton tahu kalau smackdown itu bohong alias tipu-tipu, tapi tetep aja mereka bersorak-sorai menjagokan gacoannya. Emang edan! Yang  bertarung edan, penontonnya lebih edan lagi. Tahu bohong, tetep aja dinikmatin. Ini yang namanya komodo dikadalin.

Yang bikin kita miris adalah anak- anak kecil yang doyan nonton smackdown, namun gak ngerti kalau itu adalah acara bohongan. Setelah melihat aksi-aksi. King Booker, Chris Benoit. Gregory Helms, Brian Kendrick. Paul London, Boogeyman dan seabrek wrestler ngibul lainnya, bocah-bocah ini pun melakukan praktek lapangan. Sayangnya, yang sering dijadikan sparring partner adalah adik sendiri atau teman main yang lebih kecil. Bisa kebayang kan akibatnya?

Sebut saja yang dilakukan Andi, bocah 8 tahun di Yogyakarta. Siswa SD ini benar-benar keranjingan smackdown. Suatu saat, ketika tengah asyik banting-membanting dengan tiga temannya, tangan kanan Andi keplintlr, dia berteriak kesakitan. Melihat Andi berteriak, sang teman bukannya nolongin, malah klan ganas menindih. Akibatnya, tangan Andi patah. Mereka pun kabur.

Di Tangerang, ini mungkin yang lebih konyol. Anak-anak seunyil yang pada ber-smack ria ini adalah perempuan. Keduanya kakak beradik, yang lebih tua kelas 6 SD, adiknya kelas 3 SD. Bukannya main masak-memasak atau mainan cewek lainnya, kedua gadis cilik ini malah saling smack di ruang tamu rumahnya. Akibatnya, sang adik mendapatkan dua buah telur burung di jidat alias benjol, sedangkan sang kakak kena garuk di wajah yang menyisakan tenda cakar ayam. Ibu mereka pun sontak berteriak  kesetanan bak kesurupan melihat perubahan muka kedua buah hatinya. Rupanya kedua bocah ini juga tak mau kalah dengan temannya yang laki-laki. Bagi mereka, cewek juga bisa main smackdown. Nama-nama seperti Ashley, Jillian. Kristal dan Layla memang sering menghangatkan arena smackdown. Inilah yang ditiru kakak-beradik tersebut.

Yang parah terjadi di Bandung. Dua pekan silam, Reza Ikhsan Fadifiah (9) meninggal dunia setelah ngmap di rumah sakit selama beberapa hari. Masuknya Re2a ke RS bukannya tanpa sebab, dia habis di-smack oleh tiga orang temannya. Restu. lyo. dan li. Ketiga anak SMP ini tega menggasak tubuh Reza yang kecil mungil, membantingnya, menghujamkan kepalanya ke atas lantai dan menekuk tangannya. Karuan aja, Reza babak-belur.

Sebenarnya adegan smackdown itu, dilakukan Restu, lyo dan li. terjadi sepekan menjelang hari raya Idul Fitri. Herman Suratman, ayah Reza. mendengar anaknya mengeluhkan tangan kirinya yang sakit. Namun Reza tidak berani mengatakan apa penyebab sakitnya itu. Seminggu kemudian sakit yang dirasa Reza kian parah. Herman pun melarikan anaknya ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Soreang. Karena minimnya ‘ peralatan. Reza dilarikan ke Rumah ‘ Sakit Hasan Sadikin (RSHS).
Hasil rontgen menunjukkan, tulang pangkal lengan kiri bocah kelas III SD itu terpisah, urat di tangan kirinya pun terjepit tulang. Reza juga mengalami cedera di bagian dalam kepala. Selama seminggu dirawat di ICU RSHS, dia tak kunjung sembuh. Herman akhirnya membawa putranya ke tukang urut tulang di Cianjur. 'Saya terpaksa membawanya ke sana, karena tidak sembuh-sembuh, ujarnya.

Mulanya, kondisi Reza agak membaik, tapi cuma sebentar. Beberapa hari kemudian, kondisinya kembali parah. Herman baru mengetahui kalau penyebab sakitnya Reza akibat adegan smackdown, setelah teman-temannya datang menjenguk. Ketiga anak itu berterus- terang menuturkan kejadian sebenarnya. Saat itu pula, Herman langsung melaporkan mereka ke polisi. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, akhirnya Reza meninggal dunia pada Kamis (16/11/ 2006) lalu. ‘Kondisinya bertambah parah, Reza meninggal dalam pangkuan saya.” ujar Herman sedih.
Tragedi yang menimpa anaknya membuat Herman protes. Dia meminta Ketua DPRD Kabupaten Bandung dan Bupati Bandung agar menyurati stasiun TV yang menayangkan smackdown ini.
Mendengar peristiwa yang menyedihkan ini, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Sinansari ecip, menyatakan akan  memanggil pihak stasiun TV yang  bersangkutan. Menurut Ecip.
R tayangan smackdown ini telah :tnelanggar Undang-Undang -Penyiaran, khususnya pasal 36 -tentang penayangan kekerasan di layar televisi.

Walau ngibul (bukan ngepul lho ’ya), memang smackdown juga  terkesan menampilkan ‘kekerasan’. Bahkan tak segan para petarung baku-pukul dengan menggunakan kursi atau benda apa saja yang terdapat di sekitar ring. Inilah yang menurut Ecip tergolong sebagai penayangan kekerasan secara terbuka di TV.
Stasiun TV itu sendir bukannya tak tahu dampak tayangan ini. Oleh karena itu. mereka menampilkan logo BO (bimbingan orangtua) di sebelah kin layar kaca. Yang tidak disadari adalah efektifitas peringatan itu bagi anak-anak. Mereka tidak bakal peduli dengan ada atau tidaknya peringatan, yang mereka lihat adalah substansi dan muatan acara itu sendiri. Apalagi aksi-aksi para pelakon yang sedemikian rupa, seolah-olah itu benar adanya. Saling banting, saling kunci, saling tindih, itulah yang membetot perhatian mereka. Bukannya logo BO yang hanya berupa tanda di sebelah kiri layar kaca.

Mungkin saja para ortu telah mengingatkan anaknya akan bahaya smackdown, tapi apakah itu cukup jika tayangannya sendiri terus merecoki otak dan hasrat mereka.
Saatnya pemerintah turun tangan. Walau kini tidak ada pembredeilen terhadap media, namun berdasarkan aturan-aturan yang ada di KPI dan dampak mudharat yang ditimbulkan, sebaiknya smackdown ditarik dari peredaran. Selain tidak sesuai dengan budaya bangsa, toh masih banyak tayangan lain yang lebih dibutuhkan pemirsa TV. Ghnane pren, setuju gak?

Duh,Smackdown! Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar