Media Porno Menghambat Psikoseksual Anak

Media Porno Menghambat Psikoseksual Anak

Guru sebuah SD melaporkan, salah satu murid laki-laki yang baru kelas 3 berperilaku aneh. Hampir tiap hari, ia menggoda teman-teman wanitanya dengan mengangkat rok atau berusaha merangkul dan menindihnya. Pada kasus lain, seorang ibu melaporkan—maaf— celana dalamnya sering hilang. Ternyata, celana itu disembunyikan anak lelakinya yang baru 10 tahun.

Itulah beberapa contoh hambatan perkembangan seksual pada anak. Munculnya hambatan atau dalam tahap ekstrem disebut penyimpangan seksual pada anak, memang sangat mengkhawatirkan. Apalagi, sarana menuju arah itu, kian terbuka lebar, misalnya dengan maraknya media (cetak dan elektronik) yang mengeksploitasi tubuh wanita.

Tak heran, jika pada rapat dengar pendapat dengan Panitia Khusus (Pansus) RUU Anti Pornografi dan Pomoaksi (RUU APP) di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/2), Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi menilai, hadirnya Majalah Playboy bisa memicu kekerasan seksual dan psikoseksual pada anak.
“Dengan terbitnya Majalah Playboy, terbuka lebar kesempatan untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap anak, karena menyajikan kemudahan yang mengacu pada psikoseksual anak. Karenanya, perlu ada regulasi yang mengatur secara khusus dengan dasar UU APP,” tegas Kak Seto.

Psikolog Lara Fridani, S.Psi, M.Psych, sependapat dengan Kak Seto. Menurutnya, ketika anak dihadapkan pada majalah— apapun namanya—yang memperlihatkan gambar porno, atau dilibatkan pada pembicaraan yang berbau porno, dapat menghambat berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan psikoseksualnya.

Selanjutnya, Dosen Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini menjelaskan, psikoseksual pada anak merupakan salah satu bagian dari tahapan perkembangan anak. Tahapan ini terdiri dari perkembangan fisik, motorik, emosi, sosial, intelektual, bahasa, seni, spiritualitas (agama), moral, dan lainnya. “Aspek ini saling berkaitan dan mempengaruhi, sehingga jika ada hambatan dari salah satu aspek akan mempengaruhi yang lain," tambahnya.

Bahkan, Alumnus Master of Psychology (Educational and Developmental), Monash University, Melbome, Australia ini mengingatkan, dengan maraknya media yang menampilkan pornografi, akibatnya bukan saja menghambat perkembangan psikoseksual anak, tapi juga aspek yang lain. Sebut misalnya, Intelektual (khususnya dalam hal berpikir), emosi, sosial, agama, moral dan lainnya. “HaJ ini sangat merugikan anak, apalagi jika terjadi takes place overtime, bisa masuk kategori kekerasan pada anak,”  ujarnya.

Meski begitu, ibu dari Muhammad Zaky Abdurahman (11), Muhammad Taufiqunahman Az Zuhdy (9), dan Muhammad Zain Hilmy (5) ini mengingatkan, penyebab terjadinya gangguan perkembangan psikoseksual pada anak bukan hanya tayangan atau gambar porno, tapi juga semua faktor yang terlibat dalam kehidupan anak.

Faktor itu meliputi pota asuh orang tua, guru, pendidik dan masyarakat yang tidak tepat. Lingkungan rumah, sekolah, bermain dan lainnya, yang penuh tekanan, kekerasan, jauh dari nilai agama dan moral juga bisa memicu timbulnya hambatan perkembangan psikoseksual anak. “Meski faktor physically (hambatan karena faktor fisik) bisa muncul, selama lingkungan dan pola asuh mendukung, insya Allah masih bisa diatasi,” katanya.

Tapi untuk menangani kasus terhambatnya perkembangan psikoseksual anak, seperti contoh kasus di awal tulisan ini, Konsultan Psikologi di Pusat Intervensi Dini Segar Jakarta dan Multi- pro Bogor ini mengingatkan, agar orang tua, guru dan pendidik, bijak dalam menanganinya.

Dari hasil kajian yang sering ditemui istri dari Yunan Helmy ini, umumnya disebabkan karena anak meniru orang lain atau adegan film porno yang di tonton orang lain. Pada beberapa kasus, ia menemukan, anak yang berperilaku seperti ini, karena melihat film porno yang diputar pamannya. “Karenanya, jangan langsung melabelkan penyimpangan seksual pada anak ” tegasnya.
Kata Lara, orang tua tidak bisa menyimpulkan terlalu cepat bahwa perilaku seperti di atas sebagai penyimpangan seksual. Karena, anak usia dini lebih banyak meniru. Sedang naluri seksualnya juga berbeda dengan orang dewasa.

Pakar Psikoanalisis, Sigmund Freud, mengemukakan bahwa kehidupan psikoseksual manusia dibagi dalam beberapa tahapan perkembangan. Pertama, seksualitas infantile (masa anak-anak). Kedua, seksualitas remaja. Ketiga, seksualitas dewasa. Keempat, seksualitas senile (masa tua).
Secara kualitatif, seksualitas inffantil sangat berbeda dari seksualitas dewasa. Perasaan yang menyertainya pun tidak bisa disamakan dengan perasaan dan impulse (dorongan hati) seksual pada kehidupan seksual orang dewasa. Meski begitu, Freud mengakui, perasaan seksual pada anak-anak memang ada, tapi maknanya sangat berbeda dari orang dewasa.

Selanjutnya, Frued membagi empat fase tahapan perkembangan psikoseksual anak. Pertama, fase oral (mulut). Gerakan mengisap puting susu ibu memberi kenikmatan pada bagian mulut dan bibir si kedi. Kedua, fase anal (anus). Gerakan menahan dan mengeluarkan feaces (kotoran) menimbulkan rasa nikmat. Ketiga, fase phallic (penis) pada anak laki-laki dan klitoris pada anak perempuan. Keempat, fase genital secara bersamaan anak perempuan menghadapi Komptek Elektra dan Kom- plek Oedipus pada anak laki-laki.
Keberhasilan mengatasi Komplek Elektra dan Oedipus memberi peluang bagi perkembangan identitas seksual dan gender yang sehat, sesuai kodrat kelaki-lakian bagi anak laki- laki dan keperempuanan bagi anak perempuan. Dengan demikian, anak bisa melepaskan diri dari keterikatan abnormal dalam perilaku seksualnya.

Lalu. Frued menjelaskan, terhambatnya perkembangan psikoseksual anak, biasanya disebabkan oleh hilangnya kehangatan dan penyertaan efektif otrang tua serta lingkungan pada empat fase perkembangan di atas. Anak merasa kesepian karena kurang mendapat perhatian dan kehangatan emosi. Akibatnya, anak mengalami kekosongan emosional yang intens.

Rasa kesepian, memang bisa menjadi salah satu faktor penyebab anak terpaku pada kenikmatan erotisme. Erotisme ini bisa diperoleh melalui stimulasi internal atau eksternal terhadap zona erotis tertentu pada organ tubuhnya. Contohnya, mengisap jempol, melakukan gerakan bibir sambil meraba, memegang benda tertentu, atau ekstremnya, seperti contoh kasus di awal tulisan.

Karenanya, untuk mencegah terjadinya perilaku seperti di atas, Psikolog Lara Fridani menyarankan, agar semua pihak, masyarakat, pemerintah dan pelaku usaha, mengedepankan kesamaan pandangan berdasarkan nilai-nilai agama, moral, dan kepentingan pendidikan generasi muda. “Jauhkan kepentingan politik dan bisnis dalam kasus ini," tandasnya.
Untuk itu, sebagai manusia dewasa, sudah saatnya berjuang keras menciptakan lingkungan yang sehat, religius, dan saling menghargai untuk masa depan buah hati kita.
(DwiHardianto) 


Media Porno Menghambat Psikoseksual Anak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: wiwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar