Seorang ibu yang melihat anak laki-lakinya memukul teman mainnya mengatakan, “Itu tidak boleh. Sekarang minta maaf kepada temanmu.” Dan anak Anda akan mengatakan minta maaf dengan berat hati namun hal itu jelas menunjukkan bahwa dia tidak merasa menyesal telah memukul temannya. Pada kenyataannya dia mungkin meyakini bahwa dia merasa salah. Anak-anak seringkali merasa egois dan seringkali hanya memperhatikan apa yang dia inginkan tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Pada saat-saat tertentu, dia mungkin akan merebut, memukul dan membenturkan mainan temannya, mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan, dan menolak untuk menggunakan mainan bersama. Orang tua yang tidak menginginkan anak mereka melakukan hal-hal seperti ini harus menetapkan batas-batas dengan perilaku yang tepat daripada memaksa anak mereka melakukan permintaan maaf yang tidak ikhlas.
Jika seorang anak dipaksa untuk meminta maaf, dan ketika mengatakan “saya minta maaf’, merupakan konsekuensi dari perilaku yang tidak bisa diterima, maka dia mungkin akan memutuskan bahwa memukul temannya dan membenturkan mainan temannya tidak dianggap hal yang serius karena dia bisa mengatakan “Maafkan saya” karena yang harus dilakukan setelah itu adalah meminta maaf dan akan segera dimaafkan.
Orang tua seringkali memaksa anak untuk meminta maaf karena cara itu dianggap cara yang efektif dan mudah untuk menyelesaikan masalah perilaku anak yang tidak berkenan. Namun, para orang tua mengetahui bahwa mendengarkan anak mereka meminta maaf kadang merupakan hal yang tidak menyenangkan, terutama jika dia lelah melakukan sesuatu yang berbahaya seperti melempar pasir ke muka teman bermainnya. Mereka mungkin akan berbicara dengan anak mereka tentang tindakannya yang tidak bisa diterima dan dia mungkin akan merespon, “Tetapi saya sudah bilang minta maaf ” Namun demikian, ketika mereka tidak terlalu menekankan meminta maaf, dia tidak akan bisa dengan mudah “get off the hook”. Pendeknya si anak harus menemukan cara lain untuk meredakan konflik yang terjadi dengan temannya.
Motivasi sesungguhnya bagi seorang anak untuk mengubah perilakunya bukan berasal dari rasa takut untuk meminta maaf, namun dari rasa takut mengecewakan dan membuat marah orang tuanya, dan sejalan dengan pertumbuhannya dia takut membuat marah dan kecewa teman-temannya. Seorang anak yang menginginkan orang tuanya untuk tidak marah dengannya mungkin akan meminta maaf dengan sendirinya karena tingkah lakunya yang tidak baik. Permintaan maaf semacam ini berasal dari dalam dirinya dan lebih tulus daripada permintaan maaf yang dipaksakan untuk dilakukannya.
Banyak orang tua yang heran mengapa anak mereka tidak mau sesering mungkin meminta maaf ketika dia melakukan kesalahan. Seringkali dia mungkin malu untuk mengakui tindakannya yang salah dan pada saat lain dia mungkin tidak mau menjadi pusat perhatian. Dia mungkin akan menyangkal tindakannya baik karena dia meyakini bahwa tindakannya benar atau karena takut dengan reaksi dan ketidaksetujuan orang tuanya. Seringkali anak kecil memiliki perasaan tentang kemandirian yang kuat dan menolak melakukan tindakan yang mereka inginkan.
Ketika anak Anda dilukai oleh anak lain, maka fokuskan diri untuk menentukan batasan-batasan. Daripada Anda mengatakan. "Karena kamu telah memukulnya, sekarang minta maaf kepadanya,” lebih baik Anda mengatakan, “Saya tidak akan membiarkan kamu memukulnya, atau “Kamu mungkin tidak mau bermain dengannya namun saya tidak akan membiarkanmu memukulnya.” Jika anak Anda berusia empat atau lima tahun, maka sarankan agar dia menolong untuk menenangkan situasi kembali: “Karena kamu telah merobohkan blok mainan temannya, maka kamu harus membantunya menata kembali.” Anda juga bisa mengembangkan perilakunya dengan memintakan maaf untuknya: “Saya minta maaf karena dia telah merobohkan blok kamu. Dia akan membantumu menyusun kembali blok tersebut.”
Semakin bertambah usia anak Anda, maka akan semakin mudah Anda membicarakan kemarahan dengannya. Dengarkan tentang alasan kenapa dia bertindak salah, tidak peduli sejauh mana muskilnya alasan mereka. Sebelum dia menawarkan permintaan maaf yang tulus, dia perlu meyakini bahwa dia bisa menjelaskan sisi ketidaksetujuannya. Anak- anak (dan orang dewasa) yang merasa tidak didengar seringkali akan mempertahankan diri dan, kecuali dipaksa, menolak untuk meminta maaf meskipun ketika mereka tahu bahwa mereka salah.
Karena anak Anda menirukan perilaku Anda, maka jangan lupa minta maaf jika Anda bertindak berlebihan terhadapnya, ketika menabraknya, atau mengambilnya dari tempat bermain karena Anda buru-buru mau pergi ke suatu tcmpai. Jika Anda mau meminta maaf kapanpun diperlukan, maka dia senantiasa akan menirukan kata-kata dan tindakan Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar